Berita Terkini:
Penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dengan Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetis Kementerian Pertanian, 10 November 2016. Penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara  Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dengan  Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetis Kementerian Pertanian   Pada tanggal 10 November 2016, bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional antara Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dengan Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Kementan telah menandatangani Perjanjian Kerjasama di bidang penelitian dan pengembangan Kemandirian Bahan Baku Obat Dihidroartemisinin sebagai obat antimalaria. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Biomedis, Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar yang dihadiri oleh Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Pretty Multihartina, PhD,  Kepala Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Kementan, Ir. Mastur, M.Si, PhD, Pejabat Eselon III dan IV di kedua instansi,  Ketua Pelaksana Penelitian Dra. Ani Isnawati, M.Kes dan tim peneliti.  Kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Sambutan Kepala Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Kementan, Penandantanganan Perjanjian Kerjasama oleh kedua belah pihak dan diakhiri dengan diskusi serta foto bersama. Dalam sambutan dan arahannya, Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan menyampaikan bahwa Indonesia sekarang ini sangat ketergantungan terhadap impor bahan baku obat maupun eksipien, sedangkan kebutuhan akan obat didalam negeri sangat besar. Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan melalui tugas dan fungsinya memiliki output  prioritas hasil penelitian yaitu obat dan obat tradisional. Untuk itulah dalam melaksanakan amanah dan tanggungjawab RPJMN 2015-2019 pada rencana strategis kemandirian obat/obat tradisional  dan Inpres No 2016 tentang Percepatan Industri Farmasi dan Alat, kami wujudkan salah satunya melalui penelitian Kemandirian Bahan Baku Obat Dihidroartemisnin sebagai Obat Anti Malaria.    Kapuslitbang Biomedis dan Teknologi dasar Kesehatan dan Kepala Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Kementan menandatangani Perjanjian dan Kerjasama   Kapuslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dan Kepala Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Kementanberfoto bersama dengan Pejabat Struktural dan Tim Peneliti Kemandirian Bahan Baku Obat Dihidroartemisnin sebagai Obat Anti Malaria Selanjutnya Ibu Pretty Multihartina, PhD menjelaskan penelitian ini dikerjakan dalam bentuk konsorsium dan dilakukan secara komprehensif dari hulu sampai hilir, meliputi rekayasa genetik untuk meningkatkan kadar artemisinin, teknik budidaya tanaman A. annua, derivatisasi Dihidroartemisinin, Formulasi dan Produksi Tablet Dihidroatemisinin-Piperakuin. Dalam konsorsium ini kita menggandeng juga instansi lain seperti  LIPI, PT Indofarma dan ITB untuk mempercepat dan memperkuat tercapainya output penelitian.  Diharapkan dengan adanya perjanjian kerjasama ini tujuan dan output penelitian untuk mendapatkan bahan baku obat asli Indonesia dapat segera terwujud. (NY) - Friday, 11 November 2016 03:30
Pertemuan Evaluasi Penelitian ISPA 21-23 September 2016       Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (PBTDK) , Balitbangkes sejak tahun 2006 sudah melaksanakan surveilans Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Dimana untuk tahun 2016 mengambil topik “Pengembangan Metode Deteksi dan Identifikasi Molekuler Menunjang Pemantauan Berkala Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan dan Pneumonia “. Saat ini ada 27 sentinel puskesmas untuk surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan 6sentinel rumah sakit untuk surveilans Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang kemudian disebut Surveilans ISPA Berat Indonesia (SIBI) bekerjasama dengan SubDit ISPA – Ditjen P2P.Spesimen yang dikumpulkanadalahswab hidung dan swab tenggorok. Pengambilan spesimen dilakukan memenuhi kriteria kasus ISPA Berat sesuai definisi operasional yang ditetapkan. Pemeriksaan dilaksanakan di laboratorium Virologi, P3BTDK untuk mendeteksi virus Influenza penyebabnya dengan metode rRT-PCR.     Pertemuan evaluasi ini perlu dilaksanakan setiap tahun untuk meningkatkan koordinasi antar sentinel puskesmas, rumah sakit, dinas kesehatan kab/kota, dinas kesehatan propinsi dan tim ISPA pusat. Pertemuan dilaknakan pada tanggal 21-23 Sepember 2016 di ruang Auditorium Hotel Lumire, Jakarta. Pertemuan evaluasi dihadiri oleh 176 peserta yang terdiri dari Tim ISPA Pusat: 48 orang, Tim ILI puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota: 54 orang, Tim SIBI rumah sakit: 33 orang, Tim Lab Regional: 5 orang dan Dinas Kesehatan Provinsi: 27 orang serta tim penelitian ISPA Pusat. Adapun Tujuan dari pertemuan evaluasi penelitian ISPA adalah: 1.    Untuk menyegarkan pengetahuan petugas tentang prosedur pelaksanaan surveilans ILI dan Surveilan ISPA Berat di Indonesia (SIBI) 2.    Untuk mencari solusi dari kendala di puskesmas dan rumah sakit.         Pertemuan ini dibuka oleh Kepala Badan Litbang Kesehatan. Sebagai narasumber pada pertemuan ini adalah Kapuslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P dan perwakilan WHO. - Friday, 30 September 2016 15:33
Peningkatan Kemampuan Pengendalian Penyakit Merscov Di Lingkungan Kemhan dan TNI TA. 2016, Jakarta, 15 September 2016   Ancaman nyata pertahanan suatu negara berupa bencana alam, terorisme, penyalahgunaan narkoba, cyber dan penyebaran wabah penyakit. Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERSCoV) merupakan salah satu penyakit yang mengancam pertahanan negara karena berpotensi menjadi wabah yang menuntut perhatian serius karena penyebarannya yang cepat dengan korban yang banyak. Kementerian Pertahanan dan TNI merupakan unsur terdepan dalam menghadapi ancaman tersebut. Berkaitan dengan hal di atas perlu peningkatan kemampuan dalam pecegahan (preventif), penemuan kasus dan identifikasi penyebab penyakit (deteksi dan identifikasi) dan penanganan cepat korban (respon cepat).Oleh karena itu Direktorat Jenderal Kekuatan Pertahanan Kemhan yang mempunyai tugas dalam melaksanakan bimbingan teknis di bidang kesehatan bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan melakukan Pelatihan Peningkatan Kemampuan Pengendalian Penyakit MERSCoV di lingkungan Kemhan dan TNI.      Pelatihan dilaksanakan pada 14 – 16 September 2016 di Jakarta. Kepala Pusat Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan, Pretty Multihartina, PhD diundang sebagai narasumber dan menyampaikan tentang kemampuan laboratorium Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dalam menghadapi pandemi khususnya MERSCoV selain itu Dr. dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed dan Arie Ardiansyah Nugraha menyampaikan materi dan demo tentang Pengambilan, Pengiriman dan Pemeriksaan spesimen MESRCoV.(AAN)     - Sunday, 25 September 2016 11:24
Asean Health Ministers Special Video Conference on The Threat of Zika Virus in The Region, 19 September 2016   Indonesia delegates in the Video Conference (from right to left: Director General of National Institute of Health Research and Development, Secretary General of Ministry of Health – Republic of Indonesia) In February 2016, the World Health Organization declared the ongoing situation of the Zika virus infection, at that time mainly affecting Latin America and Brazil a Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). This was in response to a growing body of evidence that linked the Zika Virus Infection in the Americas to microcephaly in the newborn babies of affected pregnant women and other neurological deficits. In response to WHO's declaration of PHEIC and the Organization's recommendations for members states on Zika virus surveillance and management, many WHO member states including those within ASEAN, enhanced their surveillance of Zika virus disease and their capacity to detect Zika virus disease. In line with other countries around the world including the Americas, Africa and Asia, a number of ASEAN Member States (AMS), including Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand and Vietnam have since reported cases of Zika virus disease. Most of these cases reported by AMS are mild. In the meantime, all AMS countries actively implementing many public health interventions including vector control and public communication as measures to prevent and control the spread of this disease. In view of the escalating concern of Zika virus infection and its impact in ASEAN countries, the Minister of Public Health of Thailand, with support of the Minister of Health of Brunei Darussalam (as Chair of AHMM), proposes a ASEAN Health Minister's Special Video Conference on the threat of Zika virus in the ASEAN as a forum for initiating and enhancing cooperation among AMS in response to Zika virus disease and its associated issues within the region. Objectives 1. To share country experiences on Zika virus situation and strategies or approaches for the management of Zika virus, including surveillance, prevention and control and public risk communication. 2. To discuss ways forward for cooperation on preparedness and response to Zika virus in the region. Chairs: • Minister of Health, Brunei Darussalam as Chair of the AHMM • Minister of Health / Head of Delegation, Cambodia as Vice-Chair of the AHMM. Indonesian delegates were lead by Secretary General of Ministry of Health – Republic of Indonesia.(VS) - Sunday, 25 September 2016 11:07
Kejadian Luar Biasa Difteri di Kecamatan Jatiluhur Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat Pada Bulan September 2016        Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya suatu penyakit baru atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah pada kurun waktu tertentu, dan merupakan suatu keadaan yang dapat mengarah pada terjadinya wabah. Pada tanggal 7 September 2016, Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta menerima laporan adanya satu kasus tersangka Difteri dari salah satu Puskesmas di Purwakarta. Kasus kemudian dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung unutk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan terhadap spesimen swab tenggorok di RS Hasan Sadikin Bandung menunjukkan kasus positif Difteri secara mikroskopis. Setelah penemuan satu kasus positif Difteri, tidak lama Puskesmas Purwakarta menerima lagi kasus-kasus tersangka Difteri yang memerlukan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah bertambah banyaknya kasus tersangka Difteri. Pada tanggal 15 September 2016, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) bersama dengan Badan Litbang Kesehatan c.q Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar bekerjasama untuk melakukan nvestigasi intensif dan memberikan bantuan obat-obatan terutama antibiotik. Dalam hal ini Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar menurunkan dua orang yang sudah terlatih untuk investigasi lapangan yaitu : Dr. Masri Maha Sembiring, DTMH dan Kambang Sariadji, MBiomed. Rombongan investigasi lapangan dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal P2P, Dr. Mohammad Subuh. Saat investigasi di lapangan, Dr. Masri melakukan wawancara dengan kasus dan kontak, sedangkan Pak Kambang melakukan pengambilan spesimen tersangka Difteri dan kontak kasus untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Laboratorium Nasional di Jakarta. (VS) - Sunday, 25 September 2016 10:50
Konferensi Ilmiah Option IX For The Control of Influenza, Chicago-Amerika 24-28 Agustus 2016 Option IX For he Control Of Influenza merupakan konferensi ilmiah yang diadakan oleh  Perkumpulan Internasional untuk Influenza dan Penyakit Virus Pernafasan lainnya (Internasional Society for Influenza and other Respiratory Virus Disease) dengan tujuan untuk menyediakan informasi yang komprehesif meliputi semua bidang ilmu Influenza yaitu pencegahan, kontrol, dan pengobatan baik musiman maupun pandemi. Selain itu pertemuan ini bertujuan sebagai sarana untuk berkolaborasi dan bekerjasama di dalam penelitian influenza dari mulai penelitian dasar untuk pengembangan vaksin dan antiviral serta penelitian epidemiologi dan program pencegahannya. Diharapkan dengan adanya pertemuan ini  dapat memaksimalkan peluang untuk diskusi informal dan pertukaran ide antara perwakilan instansi pemerintah, akademisi, dan industri. Pada pelaksanaannya, pertemuan ini menghadirkan topik ilmiah yang beragam sehingga presentasi topik dibagi menjadi 3 topik besar yaitu; Clinical Science, Virology, dan Public Health. Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai kalangan yaitu klinisi, ilmuwan, peneliti, pengusaha, akademisi, pejabat pemerintahan, serta media dari semua negara di dunia terutama anggota National Influenza Center (NIC) serta World Health Organization (WHO). Badan Litbang Kesehatan sebagai institusi penelitian dibawah Kemenkes serta NIC Indonesia mengirimkan wakilnya untuk presentasi poster.   Hana Apsari Pawestri (A Fatal Cases of Severe Pneumonia in A Child Diagnosed as Influenza A/H1N1pdm09),     Ririn Ramadhany (The Emerge of Mutation E164G and D174E of HA2 in Fatal Cases of Influenza a/H1N1pdm in Indonesia, 2015-2016)         Agustiningsih (Molecular Characterization of Influenza A/H3N2 Virus Obtained from Indonesian Hajj Pilgrims, 2013-2014) - Tuesday, 13 September 2016 14:38
Kemandirian Nasional Dalam Life Science, 25 Agustus 2016  Penandatanganan BAST antara Puslitbang BTDK dan Bio Farma Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan/Puslitbang BTDK  (Pretty Multihartina, PhD) menandatangani BAST (Berita Acara Serah Terima) sebagai bukti penyeran Klon TB kepada Bio Farma untuk dikembangkan lebih lanjut. Puslitbang BTDK  sebagai Koordinator Konsorsium riset Tuberculosis yang terdiri dari beberapa institusi yakni  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, Universitas Hassanudin, Universitas Brawijaya, Universitas Mataram, Universitas Jember, Unika Atma Jaya dan RS Rotinsulu dan Industri obat (Bio Farma) berupaya untuk mewujudukan kemandirian nasional dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan vaksin nasional.       Kegiatan ini merupakan salah satu dari dukungan terhadap Instruksi Presiden No.6 tahun 2016, dimanara pemerintah mengharapkan akan adanya penguasaan teknologi bidang biomedis yang termasuk didalamnya adalah penguasaan teknologi dalam bidang farmasi dan alat kesehatan dengan demikian harapan akan kemandirian bangsa dalam pemenuhan kebutuhan farmasi dan alat kesehatan dapat terpenuhi.  Selain itu produk produk dari Life Science nasional akan dapat memenuhi kebutuhan Biofarmasetikal dengan harga yang terjangkau bagi seluruh masyarakat. (MB)     - Tuesday, 13 September 2016 06:18
Penandatangan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama Badan Litbang Kesehatan dengan PT Deltomed Laboratories, Wonogiri, 6 September 2016 Penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama Badan Litbang Kesehatan Dengan PT Deltomed Laboratories, Wonogiri, 6 September 2016   Pada tanggal 6 September 2016, antara Badan Litbang Kesehatan dan PT Deltomed Laboratories telah menandatangani Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama di bidang penelitian dan pengembangan fraksi bioaktif ekstrak daun gambir sebagai obat antihiperlipidemia. Kegiatan ini berlangsung di Plant PT Deltomed Laboratories Wonogiri yang dihadiri oleh Kepala Badan Litbangkes dr. Siswanto, MHP, DTM, Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Pretty  Multihartina, PhD, Ketua Pelaksana Penelitian Nanang Yunarto, M.Si, Apt, Plant Director PT Deltomed Laboratories Drs. Nyoto Wardoyo, Apt dan Business and Development Director PT Deltomed Laboratories dr. Abrijanto, M.Si.  Kegiatan diawali dengan doa bersama, penjelasan pengantar dari Ketua Pelaksana Penelitian, Sambutan Kepala Badan Litbangkes, Sambutan Plant Director PT Deltomed Laboratories, Penandantanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama oleh kedua belah pihak dan diakhiri dengan kunjungan pabrik.     Kiri - Kanan; Kepala Puslitbang Biomedis dan Tekdaskes, Kepala Badan Litbang Kesehatan, Plant Director PT Deltomed Laboratories   Kapala Badan Litbangkes,Plant Director PT Deltomed Laboratories dan Ketua Pelaksana Penelitian Nanang Yunarto, M.Si, Apt, saat mengunjungi Fasilitas Produksi   Dalam sambutannya, Kepala Badan Litbangkes menyampaikan bahwa berdasarkan hasil dari Riset Kesehatan Dasar 2013 prevalensi penyakit tidak menular khususnya dislipidemia di Indonesia meningkat. Penggunaan obat dislipidemia sintetik seperti golongan statin dalam jangka waktu lama memiliki efek samping yang cukup serius seperti miopati, hepatotoksik, neuropati perifer pusing, diare dan alergi. Untuk itulah diperlukan alternatif terobosan penggunaan obat antihiperlipidemia yang lebih aman dengan bahan baku obat tanaman asli Indonesia.    Selanjutnya Kepala Puslibang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Pretty Multihartina, PhD menjelaskan bahwa Badan Litbangkes dalam hal ini Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan memiliki salah satu penelitian prioritas dalam rangka kemandirian bahan baku obat, dimana salah satu penelitiannya adalah Kemandirian Bahan Baku Obat Fraksi Bioaktif Ekstrak Gambir sebagai Obat Antihiperlidemia. Penelitian ini telah dilakukan secara komprehensif dari hulu sampai hilir, meliputi keamanan dan efek katekin dalam fraksi bioaktif ekstrak gambir sebagai obat antihiperlipidemia secara pre klinik, dimana hasilnya adalah memenuhi persyaratan  untuk ke tahap selanjutnya yaitu mencapai produk akhir yang siap diproduksi. Oleh karena itu  pada tahap  lanjutan (proses hilirisasi penelitian) perlu melibatkan industri, dalam hal ini adalah PT. Deltomed agar dapat menghasilkan produk yang memenuhi syarat untuk didaftarkan dan dipasarkan. Diharapkan dengan adanya nota kesepahaman dan perjanjian kerjasama ini tujuan dan output penelitian untuk mendapatkan bahan baku obat asli Indonesia dapat segera terwujud. (Nanang Yunarto) - Friday, 09 September 2016 04:00
Training Pilot Project Economic Burden Influenza bagian dari Disease Burden Study, 18-20 Juli 2016   Badan Litbang Kesehatan sebagai anggota jejaring global untuk Influenza telah melaksanakan pemantauan berkala virus influenza di RS (Severe Acute Respiratory Infections - SARI) dan Puskesmas (Influenza Like Illness - ILI) sejak tahun 2006.  Pada tahun 2014 dilaksanakan kegiatan pengambilan data di RS sentinel SARI untuk mengetahui beban penyakit Influenza. Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaborasi dengan subdit ISPA Ditjen P2P. Dari 6 RS sentinel SARI hanya 3 RS yang datanya dapat diolah lebih lanjut yaitu RS Wonosari DIY, RS Kanujoso Djati Balikpapan dan RS Deli Serdang Medan. Tahun 2015 dilakukan analisis data dari 3 RS tersebut. Dari hasil analisis, diperlukan data beban ekonomi dari kasus influenza ini. Maka sesuai dengan roadmapnya, tahun 2016 dilanjutkan kegiatan economic burden pada kasus-kasus yang positif Influenza secara laboratorium di RS dan Puskesmas dari tiga kota tersebut. Pada tanggal 18-20 Juli 2016, dilaksanakan sosialisasi dan pelatihan pengisian kuesioner economic burden untuk tim RS dan Puskesmas di Yogyakarta. Tim pelatih adalah Dr. Ni Ketut Susilarini (PBTDK), Edy Haryanto, SKM, MKes (Subdit ISPA, P2P), Septiara Putri, SKM, MPH (FKM UI). Untuk materi refresher pengambilan spesimen disampaikan oleh Arie Ardiansyah, AmdAK (V) - Sunday, 07 August 2016 11:54
Diklat Teknis Penyelenggaraan SPIP, Jakarta 24-30 Juli 2016       Kegiatan Diklat Teknis Penyelenggaraan SPIP Angkatan I & II Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan bekerjasama dengan Pusdiklatwas BPKP diselenggarakan pada tanggal 24-30 Juli 2016 di Kampus BBPK Jakarta Hangjebat. Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta dan dari Kepala Pusdiklat BPKP( yang mewakili Kepala Bidang SDM dan Pelatihan BPKP ) memberikan kata sambutan . Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan  mengirimkan 3 orang stafnya (Max Bobby H., Frii Handayani dan Galoeh A.). Pelaksanaan Diklat Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah amanat PP 60 Tahun 2008 yang mengamanatkan bahwa pelaksanaan kebijakan/ program dilakukan secara integral antara kegiatan dan tindakan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan asset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Dengan penerapan pelaksanaan SPI pada setiap unit kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan, diharapkan dapat mendorong seluruh unit kerja/ satuan kerja untuk melaksanakan seluruh kebijakan/program yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan yang bermuara terhadap tercapainya sasaran dan tujuan organisasi. Disamping itu setiap satuan kerja diharapkan dapat melakukan identifikasi kemungkinan terjadinya deviasi atau penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan dengan membandingkan antara perencanaan dan pelaksanaan kegiatan tersebut, sebagai umpan balik untuk melaksanakan tindakan koreksi atau perbaikan bagi pimpinan dalam mencapai tujuan organisasi. Dengan diberlakukannya PP 60 tahun 2008 ini , pimpinan instansi atau unit kerja akan bertanggungjawab penuh terhadap pelaksanaan kebijakan/program yang diurai dalam beberapa kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang dimulai sejak dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan dan pelaporan/pertanggungjawaban keuangan yang akuntabel. Penerapan SPI dalam unit kerja dilaksanakan melalui penegakan integritas dan nilai etika, komitmen kepada kompetensi, kepemimpinan yang kondusif, pembentukan struktur organisasi sesuai dengan kebutuhan, pendelegasian wewenang dan sehat tentang pembinaan sumber daya manusia, perwujudan peran pengawasan intern pemerintah yang efektif serta hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait. Dalam upaya mendorong penerapan SPIP di Iingkungan Kementerian Kesehatan khususnya di Badan Litbang Kesehatan, maka Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dan Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan menugaskan pegawai nya untuk mengikuti Diklat Teknis Penyelenggaraan SPIP dari tanggal 24 s/d 30 Juli 2016 yang diselenggarakan di kampus Balai Besar Pelatihan Kesehatan Jakarta di Hang Jebat Kebayoran Baru Jakarta Selatan (B) - Monday, 01 August 2016 15:30
Enhancing Regional Partnership Towards Strengthening Laboratory System in Accelerating GHSA's Implementation berlangsung di Hotel Berkeley Hotel, Bangkok, Thailand pada tanggal 27-29 July 2016     Pertemuan Regional Workshop yang mempunyai tema Enhancing Regional Partnership Towards Strengthening Laboratory System in Accelerating GHSA's Implementation berlangsung di Hotel Berkeley Hotel, Bangkok, Thailand pada tanggal 27-29 July 2016. Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala Badan Litbang Kesehatan (dr. Siswanto, MPH),  Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (Pretty Multihartina, PhD)  dan  dr. Masri Sembiring Maha Dalam pertemuan ini Kepala Badan Litbangkes hadir untuk  Menteri Kesehatan.  Kepala Badan berkesempatan untuk menjadi salah satu pembicara panelist dengan materi : "its application as a GHSA tool for planning and monitoring". Hasil dari pertemuan ini merekomendasian beberapa hal yakni : •GHSA is enable platform to leverage and maximize the existing efforts from countries and partners •Communication between Public Health & Animal Health is key • Coordination for partnership • Avoiding duplication and parallel efforts – not reinvented the wheel     - Monday, 01 August 2016 09:19
Pelatihan Penyegaran Petugas Surveilans Influenza Like Illness (ILI) Tahun 2016, Mei-Juni 2016     Surveilans Influenza Like Illness (ILI) dimuali sejak tahun 2006 dilaksanakan di tujuh provinsi, hingga akhir tahun 2015 Surveilans ILI telah dilaksanakan di 26 sentinel di 25 provinsi, pada tahun 2016 dikembangkan satu sentinel baru di Provinsi Banten yang menjadi sentinel ILI ke 27 di 26 provinsi seluruh Indonesia.Tujuan dari kegiatan surveilans ILI yaitu untuk memantau sirkulasi virus influenza dan mengetahui besaran masalah influenza di Indonesia dengan memprediksi prevalensi influenza di masyarakat berdasarkan konfirmasi hasil pemeriksaan laboratorium.     Untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja program surveilans ILI yang selama ini sudah berjalan baik maka dilaksanakan kegiatan pelatihan penyegaran petugas surveilans ILI, selain itu kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk melatih pengambilan spesimen yang baik dan benar untuk menunjang penelitian “pengembangan metode deteksi dan identifikasi molekuler menunjang pemantauan berkala penyakit infeksi saluran pernafasan dan pneumonia”. Kegiatan Pelatihan Penyegaran Petugas Surveilans ILIini merupakan kerjasama antara Subdit ISPA Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes dan WHO Indonesia. Kegiatan ini terbagi pada tiga lokasi yaitu Medan (17-20 Mei 2016), Surabaya (24-27 Mei 2016) dan Yogyakarta (1-4 Juni 2016) Peserta pelatihan merupakan petugas surveilans ILI di Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten dari 27 sentinel ILI di 26 provinsi serta perwakilan dari laboratorium regional       Dalam kegiatan pelatihan ini peserta melakukan simulasi pelaksanaan surveilans ILI mulai dari penemuan kasus ILI di Puskesmas, wawancara pasien, tatalaksana spesimen ILI (pengambilan, pengepakan dan pengiriman), pengisian data agregat mingguan dan membuat laporan logistik bulanan. Selain itu kegiatan ini sebagai sarana diskusi terakit kendala/hambatan yang dihadapi dalam surveilans ILI, pada akhir kegiatan peserta diberikan post test untuk membuat gambaran sejauh mana peserta memahami materi yang telah disampaikan. - Monday, 25 July 2016 12:10
International Training Workshop on Laboratory Diagnosis for Zika, Taiwan, 13-15 April 2016 International Training Workshop on Laboratory Diagnosis for Zika, Taiwan, 13-15 April 2016     Pelatihan Internasional tentang Laboratorium Diagnosis untuk Zika diselenggarakan oleh Pusat Taiwan Pengendalian Penyakit (CDC Taiwan). Pelaksanaan pelatihan di National Taiwan University College of Public Health dan Taiwan CDC Headquarter di Kota Taipei pada tanggal 13-15 April 2016. Indonesia mengirimkan 2 orang untuk menghadiri pertemuan ini, yaitu Dr. dr. Vivi Setiawaty, MBiomed (penanggungjawab laboratorium Virologi Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan) dan Dr. dr. Reni Herman, MBiomed (peneliti arbovirus di Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan).   Pada pelatihan ini, hadir 4 pembicara dari Amerika Serikatdan Jepangserta 26 peserta dari 12 negara-negara berisiko penularan Zika di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara yaitu  Australia,Bangladesh, Fiji, Indonesia, Japan, Malaysia, Myanmar, Papua New Guinea, the Philippines, Singapore, Thailand, and Vietnam. Pelatihan ini mencakup epidemiologi Zika virus dan pelatihan praktik di laboratorium. Tujuan daripelatihanini adalah untuk memperkuat kapasitas negarauntuk mendeteksi, menilai, melaporkan, memberitahukan, verifikasi dan meresponancaman dan tantangan yang ditimbulkanoleh virus Zika.   Pembicara dan pelatih pada pelatihan ini adalah Dr. Shieh Wun-judan Dr. Julu Bhatnagar dariUS-CDCdan Dr. Shigeru Tajima dari Japan National Institute of Infectious Diseases (NIID).Dr. Shieh dari US CDC adalahpakarpertama yang dilakukan diagnosis patologikasusmikrosefali di Brazil dan Dr. Tajima dariJepang NIID adalahahlipertama di Jepang yang memiliki virus Zikahasil isolasi.Dr. Julu Bhatanagar menjelaskan tentang ekstraksi RNA dari spesimen klinis dan penanganan spesimen, RT-PCR dan Sequencing untuk diagnosis Zika virus serta analisis data. Peserta pelatihan mendapat kesempatan untuk mengunjungi Medical Diagnostic Laboratory, National Taiwan University Hospital dan Taiwan Epidemic Intelligence Center. (VS) - Monday, 25 July 2016 09:12
Pertemuan ‘Advancing Global Health Security, from Commitments to Actions’, Bali, 27-29 Juni 2016   Pertemuan Advancing Global Health Security, from Commitments to Actions merupakan pertemuan High Levelyang dihadiri oleh perwakilan 52 negara di seluruh dunia. Pertemuan yang diadakan oleh World Health Organization (WHO) dibuka oleh Ibu Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila F. Moeloek, SpM(K). Hadir pada pertemuan ini adalah Bapak Kepala Badan Litbang Kesehatan Dr. Siswanto, MHP, DTM, Ibu Kapuslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Pretty Multihartina, PhD, Kasubbid Instrumen dan Produk Diagnostik Puslitbang BTDK Indri Rooslamiati, MSc, Apt dan Penanggungjawab Laboratorium Virologi Puslitbang BTDK Dr. dr. Vivi Setiawaty, MBiomed. Perwakilan Indonesia yang mengahdiri pertemuan ini tidak hanya dari Kementerian Kesehatan, tapi juga dihadiri Kementerian Pertahanan, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.   Pertemuan yang dilaksanakan selama 3 hari diawali dengan diskusi dari perwakilan negara-negara yang berbagi keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam melakukan keamanan kesehatan di negaranya. Selanjutnya diskusi dibagi dalam beberapa sesi yaitu Bagaimana mengimlementasikan kesiapsiagaan untuk kegawatdaruratan kesehatan (Operationalising for health emergencies), Perencanaan Nasional berdasarkan Hasil Assesmen, Implementasi perencanaan Kesiapsiagaan Nasional, Pendanaan yang berkelanjutan untuk Perencanaan dan Implementasi Kesiapsiagaan Negara.Pada hari kedua terdapat pembagian kelompok diskusi dengan studi kasus dengan melihat kesiapsiagaan dari 4 pendekatan yaitu perencanaan nasional, biosecurity, mobile resources serta monitoring dan evaluasi.    Melalui diskusi, kita dapat menyoroti beberapa poin penting dalam mencapai dan meningkatkan keamanan kesehatan nasional, regional, dan global. Multi - sektor dan multi - koordinasi aktor yang melibatkan kesehatan, hewan, dan sektor lingkungan melalui pendekatan One Health harus menjadi area fokus dalam program nasional, regional, dan global. Selain itu, keterlibatan masyarakat adalah usaha penting dalam memberikan kontribusi. Komitmen politik yang kuat dan kepemimpinan sangat penting untuk memastikan upaya mencapai jaminan kesehatan yang dilaksanakan secara efektif dan efisien. Aspek penting lainnya adalah investasi internasional dan domestik yang berkelanjutan dalam memberikan kontribusi untuk keselamatan dan keamanan dunia dari ancaman kesehatan masyarakat       - Thursday, 21 July 2016 12:16

Unduh Newsletter

2015

Edisi Desember 2015

2016

Edisi Januari 2016

Edisi Februari 2016

Edisi Maret 2016

Edisi April 2016

 

 

 

WHO –SEAR Inter Country Training for Polio Laboratory Supervisors,

Mumbai 7-16 April 2014

foto sinta mei 2014 2 

 

           Pertemuan ini dihadiri oleh 14 Partisipan yang berasal dari 6 Negara (India, Bangladesh, Indonesia , Thailand, Myanmar dan Srilanka). Sedangkan Narasumber /fasilitator berasal dari India (Dr Jagadish Deshpande (Director and Scientis Enterovirus Research Centre, Mumbai), Mr Prasanna yergolkar (Virologist WHO/SEARO New Delhi), Dr Lucky Sangal (Laboraty focal person New Delhi), dan Thailand (Ms Sirima Pattamadilok, TIP-Scientist WHO-SEARO New Delhi ). Pembukaan acara pada pertemuan ini diawali dengan menyalakan lilin yang melambangkan sebagai penerang dalam kegelapan, tanda adanya kebersamaan, dan berbagi pengetahuan/pengalaman. Acara ini merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan sebelum pelatihan dilakukan. Adapun Jadwal pelatihan dimulai jam 09.00 pagi sampai 18.00 sore.

Dari Indonesia di wakili oleh Institusi yang berasal dari Bio Farma, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Semua yang hadir ini adalah bagian dari jaringan Laboratorium Polio di Wilayah SEARO.

Tujuan dari Workshop :Mengutamakan pentingnya akurasi, ketepatan waktu dan kelengkapan hasil, Review praktek kerja laboratorium di dalam jaringan laboratorium Polio, Meningkatkan kinerja Laboratorium, Refresh dan Update ketrampilan dari seorang supervisor dalam meningkatkan kinerja lab., Menetapkan implementasi program total quality assurance dan Bio- Risk managemen dalam jaringan laboratorium Polio.

Dalam pertemuan ini juga dibahas beberapa kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan laboratorium polio, antara lain: Praktek Laboratorium tentang Cell subculture, Mycoplasma testing, preparasi Cell bank, kandungan media, Biosafety Laboratory , Cell Sensitivity, ketrampilan mikroskopis dalam observasi CPE (Cyto Phatic Effect ), tes rRT PCR, pemeliharaan alat lab dan kalibrasi, Internal Quality Control, Check list Accrediation, dan preparasi FTA card dan pengiriman specimen/isolat dan cell untuk pemeriksaan adanya Mikoplasma. Pelatihan RT-PCR lebih ditekankan pada partisipan dari Jakarta (lab. Polio PBTDK) dan Surabaya ( Balai Besar Laboratorium Kesehatan), karena dari jaringan lab .Polio SEARO hanya dua laboratorium yang belum melakukan tes PCR tersebut. Pelatihan dilakukan intensif selama 5 hari terakhir dengan satu orang instruktur. Materi yang diberikan meliputi praktek melakukan ITD tes, VDPV tes, menjalankan tes dengan alat PCR AB (Applied Biosytem 7500) , analisis hasil, Kalibrasi alat, pengisian worksheet, eksport data ke power point dengan Microsoft 2003 untuk pengiriman hasil ke CDC. Dari pelatihan ini diharapkan kedua lab tersebut sudah siap menghadapi Proficiency Test (PT) Phanel pada bulan Juni 2014.

Pada hari terakhir pelatihan dilakukan pemberian sertifikat pada semua Partisipan dan standing party dengan melibatkan semua pegawai laboratorium yang ada.(S)

 

Orientation ForEpi Data Managers On Vaccine Preventable Disease (VPD) Surveillance With Focus On Enhanced Measles Surveillance

 

fotobangkit mei 2014

 

Untuk mendukung komitmenmenghilangkancampakdan kontrol rubella/ Congenital Rubella Syndrom (CRS) padatahun 2020, semuanegaradibawah WHO Kawasan Asia Tenggara (South East Asia Regional Office) melakukan pertemuan pada tanggal 29 April – 1 Mei 2014, bertempat di New Delhi India. Pertemuan ini bertujuan untuk Sosialisasi tentang management pengambilan data untuk cased based (Kasus Individu); Sosialisasi tentang Rekomendasi Indikator performance untuk Campak dan Rubella Surveillans dan juga Diskusi tentang Format dan Periode waktu pengiriman pelaporan Cased Based (Kasus Individu).

Pesertayang hadir adalah dari 11 negara yaitu : Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Indonesia, Maldive, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste. Dalam pertemuan ini juga hadir Perwakilan dari WHO-HQ Genewa dan Perwakilan dari CDC-Atlanta. Pertemuan dibuka oleh Dr. Sangay Thinley selaku Direktur Departemen penelitian dan Kesehatan Keluarga WHO-SEARO. Untuk selanjutnya acara dipandu oleh Narasumber dari WHO dan CDC Atlanta.Indonesia dalam pertemuan ini diwakilkan oleh Subangkit, M,Biomed (Litbangkes-PBTDK) dan Indra Jaya, SKM, M.Epid (P2PL-Subdit Surveillans). WHO Country Representatif Indonesia juga mengirimkan 2 wakilnya dalam pertemuan ini yaitu dr. Rusipah Mursito, M.Kes dan Haditya Mukri, M.Kes.

Dalam pertemuan disepakati bahwa Pengiriman Laporan untuk kasus campak/Rubella akan dilakukan secara Mingguan dengan format yang seragam serta rencana perluasan jejaring Laboratorium Campak yang tadinya hanya 4 laboratorium menjadi 6 atau lebih agar lebih efektif dan efisien. (S)

Kegiatan training ini dilakukan berdasarkan pada teori perkuliahan (lecture) dan praktikum (hands on) yang berkaitan dengan campak dan rubella.  Materi Perkuliahan yang diberikan adalah tentang update program global WHO kasus campak-rubella terhadap target dan goal eliminasi campak dan rubella tahun 2020 di 5 region WHO (AFRO, EURO, EMRO, SEARO dan WPRO), status sekarang dan peran laboratorium pendukung untuk eliminasi campak dan pengendalian rubella/CRS di region, pengantar untuk epidemiologi molekular virus campak-rubella dan metode molekular  (real time RT-PCR, genotyping RT-PCR dengan gel elektroforesis dan sequencing) untuk deteksi virus campak-rubella, quality control untuk tes molekular, database global (MeaNS dan RubeNS) untuk campak dan rubella, genotype campak dan rubella di wilayah SEAR, serta masalah dan tantangan laboratorium regional, dan country report masing-masing negara mengenai performa laboratorium selama periode 2011-2013.