Berita Terkini:
Assesment Surveilans Komite Akreditasi Nasional di Laboratorium Farmasi Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan 21 April 2017 Assesment Surveilans Komite Akreditasi Nasional di Laboratorium Farmasi Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan 21 April 2017   Pada hari Jumat tanggal 21 April 2017, Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan kedatangan Dr. Evita Boes, M.Sc, Assesor Komite Akreditasi Nasional (KAN) dalam rangka Assesment Surveilans terhadap Laboratorium Farmasi, Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Laboratorium Farmasi adalah satu-satunya laboratorium di Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan yang telah terakreditasi KAN ISO/IEC 17025:2005 Sistem Manajemen Mutu Laboratorium. Tujuan dari assesment ini adalah memastikan konsistensi penerapan  ISO/IEC 17025:2005 selama masa akreditasi.   Pertemuan Assesor KAN dengan Koordinator Laboratorium, Manajer Mutu, Manajer Teknis dan Litkayasa Laboratorium Farmasi  Assesor KAN Kunjungi Laboratorium Farmasi    Hadir dalam assesment ini adalah Drs. Bambang Heriyanto, M.Kes selaku Koordinator Laboratorium Nasional, Dra. Ani Isnawati, M.Kes, Apt selaku Manajer Teknis, Indri Rooslamiati, M.Sc, Apt selaku Manajer Mutu dan para personel laboratorium Farmasi. Dengan telah dilakukannya assesment tersebut diharapkan laboratorium Farmasi dapat terus meningkatkan kulaitas laboratorium dan mempertahankan predikat akreditasi dari KAN.    (NY)   - Tuesday, 25 April 2017 06:09
Packaging and Shipping for Respiratory and CSF Specimen Training Course Vietnam 10-12 April 2017   The Association of Public Health Laboratories (APHL), United State Center for Disease Control and Prevention (CDC) dan Ministry of Health Thailand sebagai bagian dari Global Health Security Agenda (GHSA) mengadakan pelatihan pengepakan dan pengiriman untuk Respiratory dan CSF spesimen pada tanggal 10 – 12 April 2017 bertempat di Hilton Hotel Hanoi Vietnam. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah menyampaikan informasi dan praktek mengenai pengambilan, pengepakan dan pengiriman spesimen yang berfokus pada rantai dingin dan mengikuti persyaratan International Air Transport Association (IATA) untuk spesimen saluran pernafasan (respiratory) dan Cairan Otak (Spesimen CSF). Narasumber Pelatih dan Instruktur pada kegiatan ini adalah dari PHL dan CDC-Atlanta. Konsep yang diterapkan pada pelatihan ini adalah adalah International Best Practise dengan mengedepankan praktikum; diskusi dan sharing pengalaman masing-masing negara ditambah paparan materi dari narasumber.  Adapun Peserta yang hadir berjumlah 15 orang dari 4 negara yang berbeda yaitu Indonesia; Bangladesh; Pakistan dan Vietnam. Laboratorium Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dalam hal ini mengirimkan 2 orang staff Laboratorium untuk mengikuti pelatihan ini yakni Arie Ardiansyah Nugraha dan Subangkit. Setelah mengikuti pelatihan tersebut, kedua orang tersebut dinyatakan lulus memenuhi syarat sebagai pelatih pengepakan sesai dengan standar regulasi IATA.         - Monday, 24 April 2017 14:59
Regional Workshop on Biorisk Coomunication: A Training of Trainers, Philipina 23-25 Maret 2017     CRDF Global bekerja sama dengan University of Philippines dan Departement of Interior and Local Government menyelenggarakan Regional Workshop on Biorisk Coomunication:  A Training of Trainers yang berangsung pada tanggal 23-25 Maret 2017 bertempat di Jpark Island Resort-Cebu, Philippines. Kegiatan Wokrshop ini dibawah bimbingan Red Wheel Global Health yang memfasilitasi dan memberikan bimbingan teknis. Pada acara workshop ini dihadiri oleh 25 peserta perwakilan dari Philippines, Malaysia dan Indonesia. Delegasi dari Indonesia diwakili oleh Nanang Yunarto, M.Si, MBA, Apt, dr. Nelly Puspandari, dr. Herna Hariandja dari Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, dan dr. Antonius Oktavian dari Balai Litbang Biomedis Papua. Selama tiga hari berlangsungnya workshop, peserta diberikan materi mengenai strategi dalam komunikasi biorisiko, koordinasi multisektoral dan perencaan dalam komunikasi biorisiko dan cara mebuat rencana pelatihan komunikasi biorisiko. Setelah mengikuti workshop ini, para peserta diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan ketrampilan yang berhubungan dengan komunikasi efektif biorisko, meningkatkan koordinasi dan informasi multi sektoral dalam kejadian luar biasa maupun tanggap darurat kesehatan,  saling tukar informasi strategi komunikasi biorisiko, kebijakan dan prosedur yang efektif baik di daerah maupun nasional. (NY-NP-HH) - Monday, 03 April 2017 15:09
Pertemuan Tahunan Jejaring Laboratorium Nasional Polio dan Campak di Bandung 20-22 Maret 2017   Jejaring Laboratorium Polio dan Campak yang bernaung pada Peraturan KepMenkes RI No. HK.02.02/MENKES/322/2015, memegang peranan penting dalam upaya program Eradikasi Polio dan Eliminasi Campak serta Kontrol terhadap Rubella. Secara berkala setiap Laboratorium dilakukan proses akreditasi oleh WHO untuk memastikan bahwa kualitas hasil laboratorium tetap terjaga. Untuk memperkuat jaringan laboratorium polio dan campak, penanggung jawab dan staf teknis laboratorium polio dan campak melakukan pertemuan rutin. Pertemuan ini akan membahas tentang pengelolaan laboratorium polio nasional WHO dan campak dalam kaitannya dengan pengawasan dan wabah Acute Flaccid Paralysis (AFP) maupun campak . Selain itu pertemuan ini juga membahas tentang pengetahuan baru atau update kondisi eradikasi polio dan eliminasi campak di Indonesia, regional South East Asia dan global serta strategi yang akan diterapkan oleh program untuk mencapai eradikasi polio global 2018 dan Eliminasi Campak  2020.Pertemuan ini juga merupakan wadah untuk berbagi pengalaman dalam pemeriksaan laboratorium serta koordinasi untuk memecahkan masalah yang ditemukan di laboratorium.Pertemuan jejaring laboratorium polio dan campak ini sangat diperlukan untuk memperkuat jaringan laboratorium di Indonesia. Pertemuan yang diadakan oleh PT Biofarma ini dilaksanakan di Bandung dihadiri oleh penanggung jawab dan staf teknis laboratorium Polio dan campak dari PT Biofarma, Puslitbang BTDK Badan Litbangkes (dr. Mursinah, SpMK, dr. Herna, SpMK, Nike Susanti, SSi, Sinta Purnamawati, SKM, MKes, Ratumas Roosmawati, SKM, Asri Febriani, SSi, dan Eko Suharyanto), BLK Di Yogyakarta dan BBLK Surabaya, petugas surveilans dari provinsi dan staf pengawasan dari pemerintah pusat, staf EPI data serta perwakilan WHO Indonesia. Beberapa informasi disampaikan mengenai kondisi eradikasi polio dan eliminasi campak saat ini beserta tantangannya.Penurunan kinerja surveilans dalam penemuan kasus dan rendahnya cakupan immunisasi membuat Indonesia rentan untuk terjadi wabah poliomielitis ataupun campak dan laboratorium memiliki peranan penting untuk menegakkan diagnosa. Untuk meningkatkan kualitas laboratorium dan surveilans serta terpenuhinya keperluan laboratorium maka pada pertemuan ini dihasilkan beberapa rekomendasi yang harus ditindak lanjuti oleh laboratorium polio dan campak serta surveilans. Rekomendasi meliputi penerapan rekomendasi onsite review laboratorium polio tahun 2016, pemeriksaan antibodi staff terhadap virus polio yang akan di lakukan oleh laboratorium nasional polio PT Biofarma, dan pengadaan bahan pemeriksaan oleh instansi masing-masing dalam rangka menghadapi exit strategi WHO tahun 2018. Selain itu surveilans pusat juga diharapkan dapat meningkatkan capacity building petugas surveilans di daerah dan menjamin ketersedian reagen untuk pemeriksaan laboratorium polio dan campak.    - Sunday, 02 April 2017 09:07
Pertemuan AMR, February 2017 Pertemuan AMR, February 2017     - Wednesday, 01 March 2017 06:46
Kunjungan Menteri Kesehatan, Februari 2017 Kunjungan Menteri Kesehatan ke PuslitbangBiomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan     Didampingi oleh beberapa pejabat dilingkungan Kementerian Kesehatan RI. pada tanggal 10 February Menteri Kesehatan Prof. Dr.dr. Nila Moelek, Sp.M berkesempatan untuk hadir mengunjugi laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi (Prof. Oemijati) Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Kedatangan Menteri Kesehatan juga dalam rangka mengunjungi beberapa fasilitas laboratorium yang ada di Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan yakni tentang tata kelola spesiman biomedis dan rencana pembangunan sarana biorespository yang nantinya akan dibangun besebelahan dengan gedung utama Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof. Oemijati.         - Tuesday, 28 February 2017 07:32
Forum Pengelolaan Jurnal Ilmiah, February 2017 Forum Pengelolaan Jurnal Ilmiah   Salah satu produk dari Badan Litbang Kesehatan adalah publikasi, saat ini kurang lebih ada sekitar 20 jurnal yang tersebar di seluruh satker dibawah koordinasi Badan Litbang Kesehatan. Dari jumlah keselurahan, ada sakitar 10 jurnal yang belum terakreditasi. Akreditasi jurnal ditujukan untuk meningkatan standar dari pengelolaan jurnal termasuk dengan substansi artikel yang diterbitkan.  Pembinaan jurnal ilmiah pada institusi penelitian  di Indonesia dibawah pembinaan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk lebih meningkatkan kualitas jurnal dan jumlah sitasi.  Sejak tahun 2016 LIPI memberlakukan pengelolaan dan penerbitan jurnal secara online yang dikenal dengan OJS (Opern Jurnal Sistim). Peralihan dari sistim lama ke sistim baru memerlukan banyak latihan baik bagi pengelola, penulis, reviewer maupun bagi pembaca.    Kepala Bagian UDJ menyampaikan arahan saat pembukaan kegiatan pengelolaan jurnal ilmiah Bertempat di Hotel Santika, Sekretariat Badan Litbangkes sebagai koordiantor jurnal di seluruh satker mengadakan pertemuan pengelolaan jurnal ilmiah dengan mengundang pakar pakar bidang publikasi karya tulis ilmiah. Dalam pertemuan tersebut dibahas mengenai etika publikasi dengan isu plagiarisme dan salami yang dibawakan oleh Prof. Dr. Gono Semiadi dari LIPI. Dalam paparanya Prof Gono menyampaikan bagaimana suatu artikel digolongkan sebagai artikel yang disebut dengan salami.     - Friday, 24 February 2017 02:58
Koordinasi Penanggulangan Spesimen Kasus Antraks di PBTDK, Januari 2017 Koordinasi Penanggulangan Spesimen Kasus Antraks di PBTDK       Antraks merupakan penyakit menular akut yang bersifat zoonosis dan berpotensi wabah. Seiring dengan adanya laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks yang terjadi di Propinsi Jogjakarta Kabuptaen kulonprogo. Mengingat adanya kasus antraks yang menyerang manusia, maka tugas kementerian kesehatan untuk mendiagnosis hal tersebut. Badan litbangkes khususnya Laboratorium Pusat Penyakit Infeksi - Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (PBTDK) berperan sebagai laboratorium rujukan penyakit berpotensi wabah termasuk antraks telah bersiap untuk melakukan pemeriksaan kasus antraks tersebut.   Persiapan penganggulangan spesimen kasus antraks pada dimulai tanggal 27 januari 2017 dengan melakukan rapat koordinasi antara Koordinator Laboratorium Pusat Penyakit Infeksi (Drs. Bambang heriyanto, M.Kes); Tim Biorisiko-PBTDK; dan Penanggung Jawab Lab. Bakteriologi (Kambang S.MBiomed) beserta stafnya. Turut hadir juga Penanggung Jawab BSL-3 (dalam hal ini diwakili oleh DR.dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed yang telah berpengalaman masuk dan berkerja di BSL-3).   Adanya rapat koordinasi ini bertujuan untuk membahas hal-hal yang bersifat teknis pemeriksaan laboratorium Antraks. Dalam koordinasi dibahas tentang tatacara masuk ke BSL-3 sebelum bekerja dengan antraks. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah dibahasnya Penilaian Resiko (Risk Assesment) terhadap Antraks. (SB)   - Thursday, 23 February 2017 03:10
Pelatihan TOT Kesehatan Terpadu (One Health), February 2017 Pelatihan TOT Kesehatan Terpadu (One Health)   TOT Pengelolaan Kesehatan Terpadu (One Health)yang dilaksanakan di Balai Besar Pelatihan Kesehatan – Ciloto Kemenkes, pada 5 – 12 Februari 2017 merupakan pelatihan yang diadakan dalam rangka sosialiasi One Health, suatu strategi dunia untuk mengembangkan kolaborasi interdisiplin dalam seluruh aspek pelayanan kesehatan untuk manusia, hewan, dan lingkungan. Pengembangan pelatihan TOT pengelolaan One Healthadalah hasil kerjasama antara BBPK Ciloto - Kemenkes, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara – Kementan, Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) dan Indonesia One Health Network University (Indohun). Pelatihan ini merupakan pelatihan kali kedua yang diikuti oleh peserta dari berbagai instansi Kementerian yaitu Kementerian Kesehatan (Dit. Surveilans dan Karantina Kesehatan, Dit. Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis, Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Makassar, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Jakarta, Bapelkes Cikarang, Bapelkes Batam, Bapelkes DIY, Bapelkes Semarang), Kementerian Pertanian (Dit. Kesehatan Hewan, Balai Besar Penelitian Veteriner) dan Kementerian PMK.     Selain itu, beberapa peserta dari instansi Pemerintah Daerah yang mengikuti pelatihan ini yaitu: Dinas Pangan, Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat; Dinas Kesehatan DIY; Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara; Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat; Dinas Kesehatan Kabupaten Mempawah; Dinasi Kesehatan Kotamobagu; Dinas Kesehatan Provinsi Banten; BPSDMD Provinsi Banten; BBPP Kupang. Pelatihan diberikan selama 58 jam pelajaran meliputi teknik melatih, konsep One Health, Berpikir sistem untuk menganalisis dampak perubaha ekosistem dalam One Heatlh, Komunikasi efektif dalam perubahan perilaku, Kerjasama dan kolaborasi dalam praktek epidemiologi dan analisis risiko penyakit zoonosis, dan Manajemen infeksi zoonosis. Pre dan Post test, serta microteaching dilakukan sebagai evaluasi terhadap peserta pelatihan. Hasil evaluasi penguasaan substansi pelatihan oleh peserta dapat dilihat dari pre dan post test yang nampak dengan peningkatan rata-rata nilai capaian dari 45.5 menjadi 71.87. - Thursday, 23 February 2017 03:03
Akreditasi Laboratorium Polio, February 2017 Akreditasi Laboratorium Nasional Polio   Penyakit polio yang disebabkan oleh virus polio sudah memasuki era akhir. Indonesia sendiri sudah dinyatakan bebas polio bersamaan dengan wilayah South East Asia Region (SEAR) dinyatakan bebas polio sejak 27 Maret 2014. Kasus terakhir virus polio liar ditemukan di India padaFebruari 2012.Ada 3 negara yang masih endemis, yaitu: Afganistan, Pakistan, dan Nigeria. Walaupun sudah dinyatakan bebas polio, tidak berarti semua kegiatan yang berhunungan dengan polio dihentikan apalagi Indonesia mempunya risiko tinggi untuk terjadi introduksi ulang. Kegiatan lain selain surveilans AFP pun harus digalakkan. Saat ini selain surveilans AFP, diharapkan Indonesia dapat menerapkan Biorisk management sesuai dengan GAP (Global Action Plan)III, untuk meminimalisir fasilitas viruspolio terkait risiko setelah eradikasi virus polio liar tipe 2 dan penghentian penggunaan vaksin OPV. Tindakan ini penting untuk mencegah terjadinya introduksi ulang virus polio tipe 2 yang sudah tereradikasi. Selain itu juga digalakkan kegiatan surveilans polio lingkungan, dan containment virus polio tipe 2. Sejak tahun 2004 sistem surveilans AFP diintegrasikan ke dalam penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Sejak itu, peran laboratorium sangat dibutuhkan untuk mengkonfirmasi virus polio. Berkenaandenganhaltersebut, standarisasidiperlukan untuk menjaga kualitas lab polio di seluruh dunia. Standarisasi dilakukanoleh World Health Organization (WHO) melaluimekanismeakreditasi. Kegiatanakreditasi ini dilakukan secaraberkalasejak tahun 1995.  Pada tanggal 13-14 Februari 2017 telah dilaksanakan akreditasi Lab. Nasional Polio PuslitbangBiomedisdanteknologidasarKesehatan(PBTDK) oleh Tim dari WHO. Tim penilai WHO yang hadirpadakesempataniniadalahMs. Sirima Pattamadilok dari WHO SEAR, Mr. Ousmane Diop dari WHO HQ, dan Mrs. Cara Burns dari CDC Atlanta. Penilaianakreditasi yang dilakukan assessor meliputiprofil laboratorium, standar prosedur, praktek kerja, fasilitas, penggunaan ruangan, manajemen dan supervisi, kultur sel, implementasi tes sensitivitas sel rutin, spesimen tinja, isolasi virus, containment virus polio liar, suspek VDPV dan NPEV, prosedur dan praktek biosafety, logistik reagen, peralatan, staf surveilans, serta manajemen data.   Setelah 2 harimelakukan proses akreditasi, timpenilaimengumumkanbahwaLaboratorium Nasional Polio PBTDK dinyatakansesuaidenganstandarLaboratoriumlainnya di dunia. Selama dua hari ini juga laboratorium PBTDK juga diberi masukan yang sangat bermanfaat dalamupayamengembangkan kapasita laboratorium dan sumber daya. Selamat kepada teman-teman lab polio yang sudah berdedikasi dalam komitmen untuk eradikasi polio  - Thursday, 23 February 2017 02:49
Pelatihan Penggunaan Mikroskop Flouresence, Januari 2017 Pelatihan Penggunaan Mikroskop Flouresence   Laboratorium Pusat Penyakit Infeksi – Puslitbang Biomedis danTeknologi Dasar Kesehatan (Lab. PPI - PBTDK) merupakan laboratorium rujukan di Indonesia sesuai dengan permenkes no. 658 tahun 2009. Sesuai dengan peran tersebut Lab. PPI-PBTDK selalu berbenah dir iuntuk melakukan peningkatan kapasitas baik sarana dan peningkatan SDM.Padatanggal 11 Januari 2017, dilakukan pelatihan penggunaan Mikroskop Flouresence.Peserta pelatihan adalah perwakilan dari laboratorium virology; perwakilan dari laboratorium sel punca danperwakilan dari Laboratorium bakteriologi. Dengan total jumlah peserta sebanyak 20 orang. Adapun narasumbernya adalah  Yusuf dan Pak Anung. Metode pelatihan yang dilakukan adalah presentasi dan Praktek. Pada presentasi dipaparkan tentang teknik dasar Mikrsokop Flouresence dan pemilihan filter flouresence.     Gambar: 1.    Suasana presentasi dasar mikroskop Flouresence;                   2.   PraktikumDasarMikroskopFlouresence   Sedangkan pada sesi praktikum diajarkan penggunaan mikroskop flouresense; perawatan dasar mikroskop flouresence dan juga penggunaan kamera sertafitur  perangkat lunak dari mikroskop fllouresence   - Wednesday, 22 February 2017 10:15
Asean Health Ministers Special Video Conference on The Threat of Zika Virus in The Region, 19 September 2016   Indonesia delegates in the Video Conference (from right to left: Director General of National Institute of Health Research and Development, Secretary General of Ministry of Health – Republic of Indonesia) In February 2016, the World Health Organization declared the ongoing situation of the Zika virus infection, at that time mainly affecting Latin America and Brazil a Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). This was in response to a growing body of evidence that linked the Zika Virus Infection in the Americas to microcephaly in the newborn babies of affected pregnant women and other neurological deficits. In response to WHO's declaration of PHEIC and the Organization's recommendations for members states on Zika virus surveillance and management, many WHO member states including those within ASEAN, enhanced their surveillance of Zika virus disease and their capacity to detect Zika virus disease. In line with other countries around the world including the Americas, Africa and Asia, a number of ASEAN Member States (AMS), including Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand and Vietnam have since reported cases of Zika virus disease. Most of these cases reported by AMS are mild. In the meantime, all AMS countries actively implementing many public health interventions including vector control and public communication as measures to prevent and control the spread of this disease. In view of the escalating concern of Zika virus infection and its impact in ASEAN countries, the Minister of Public Health of Thailand, with support of the Minister of Health of Brunei Darussalam (as Chair of AHMM), proposes a ASEAN Health Minister's Special Video Conference on the threat of Zika virus in the ASEAN as a forum for initiating and enhancing cooperation among AMS in response to Zika virus disease and its associated issues within the region. Objectives 1. To share country experiences on Zika virus situation and strategies or approaches for the management of Zika virus, including surveillance, prevention and control and public risk communication. 2. To discuss ways forward for cooperation on preparedness and response to Zika virus in the region. Chairs: • Minister of Health, Brunei Darussalam as Chair of the AHMM • Minister of Health / Head of Delegation, Cambodia as Vice-Chair of the AHMM. Indonesian delegates were lead by Secretary General of Ministry of Health – Republic of Indonesia.(VS) - Sunday, 25 September 2016 11:07
Kejadian Luar Biasa Difteri di Kecamatan Jatiluhur Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat Pada Bulan September 2016        Kejadian Luar Biasa adalah timbulnya suatu penyakit baru atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah pada kurun waktu tertentu, dan merupakan suatu keadaan yang dapat mengarah pada terjadinya wabah. Pada tanggal 7 September 2016, Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta menerima laporan adanya satu kasus tersangka Difteri dari salah satu Puskesmas di Purwakarta. Kasus kemudian dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung unutk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan terhadap spesimen swab tenggorok di RS Hasan Sadikin Bandung menunjukkan kasus positif Difteri secara mikroskopis. Setelah penemuan satu kasus positif Difteri, tidak lama Puskesmas Purwakarta menerima lagi kasus-kasus tersangka Difteri yang memerlukan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah bertambah banyaknya kasus tersangka Difteri. Pada tanggal 15 September 2016, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) bersama dengan Badan Litbang Kesehatan c.q Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar bekerjasama untuk melakukan nvestigasi intensif dan memberikan bantuan obat-obatan terutama antibiotik. Dalam hal ini Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar menurunkan dua orang yang sudah terlatih untuk investigasi lapangan yaitu : Dr. Masri Maha Sembiring, DTMH dan Kambang Sariadji, MBiomed. Rombongan investigasi lapangan dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal P2P, Dr. Mohammad Subuh. Saat investigasi di lapangan, Dr. Masri melakukan wawancara dengan kasus dan kontak, sedangkan Pak Kambang melakukan pengambilan spesimen tersangka Difteri dan kontak kasus untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Laboratorium Nasional di Jakarta. (VS) - Sunday, 25 September 2016 10:50
Konferensi Ilmiah Option IX For The Control of Influenza, Chicago-Amerika 24-28 Agustus 2016 Option IX For he Control Of Influenza merupakan konferensi ilmiah yang diadakan oleh  Perkumpulan Internasional untuk Influenza dan Penyakit Virus Pernafasan lainnya (Internasional Society for Influenza and other Respiratory Virus Disease) dengan tujuan untuk menyediakan informasi yang komprehesif meliputi semua bidang ilmu Influenza yaitu pencegahan, kontrol, dan pengobatan baik musiman maupun pandemi. Selain itu pertemuan ini bertujuan sebagai sarana untuk berkolaborasi dan bekerjasama di dalam penelitian influenza dari mulai penelitian dasar untuk pengembangan vaksin dan antiviral serta penelitian epidemiologi dan program pencegahannya. Diharapkan dengan adanya pertemuan ini  dapat memaksimalkan peluang untuk diskusi informal dan pertukaran ide antara perwakilan instansi pemerintah, akademisi, dan industri. Pada pelaksanaannya, pertemuan ini menghadirkan topik ilmiah yang beragam sehingga presentasi topik dibagi menjadi 3 topik besar yaitu; Clinical Science, Virology, dan Public Health. Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai kalangan yaitu klinisi, ilmuwan, peneliti, pengusaha, akademisi, pejabat pemerintahan, serta media dari semua negara di dunia terutama anggota National Influenza Center (NIC) serta World Health Organization (WHO). Badan Litbang Kesehatan sebagai institusi penelitian dibawah Kemenkes serta NIC Indonesia mengirimkan wakilnya untuk presentasi poster.   Hana Apsari Pawestri (A Fatal Cases of Severe Pneumonia in A Child Diagnosed as Influenza A/H1N1pdm09),     Ririn Ramadhany (The Emerge of Mutation E164G and D174E of HA2 in Fatal Cases of Influenza a/H1N1pdm in Indonesia, 2015-2016)         Agustiningsih (Molecular Characterization of Influenza A/H3N2 Virus Obtained from Indonesian Hajj Pilgrims, 2013-2014) - Tuesday, 13 September 2016 14:38
Kemandirian Nasional Dalam Life Science, 25 Agustus 2016  Penandatanganan BAST antara Puslitbang BTDK dan Bio Farma Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan/Puslitbang BTDK  (Pretty Multihartina, PhD) menandatangani BAST (Berita Acara Serah Terima) sebagai bukti penyeran Klon TB kepada Bio Farma untuk dikembangkan lebih lanjut. Puslitbang BTDK  sebagai Koordinator Konsorsium riset Tuberculosis yang terdiri dari beberapa institusi yakni  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, Universitas Hassanudin, Universitas Brawijaya, Universitas Mataram, Universitas Jember, Unika Atma Jaya dan RS Rotinsulu dan Industri obat (Bio Farma) berupaya untuk mewujudukan kemandirian nasional dalam rangka pemenuhan kebutuhan akan vaksin nasional.       Kegiatan ini merupakan salah satu dari dukungan terhadap Instruksi Presiden No.6 tahun 2016, dimanara pemerintah mengharapkan akan adanya penguasaan teknologi bidang biomedis yang termasuk didalamnya adalah penguasaan teknologi dalam bidang farmasi dan alat kesehatan dengan demikian harapan akan kemandirian bangsa dalam pemenuhan kebutuhan farmasi dan alat kesehatan dapat terpenuhi.  Selain itu produk produk dari Life Science nasional akan dapat memenuhi kebutuhan Biofarmasetikal dengan harga yang terjangkau bagi seluruh masyarakat. (MB)     - Tuesday, 13 September 2016 06:18

Unduh Newsletter

WHO –SEAR Inter Country Training for Polio Laboratory Supervisors,

Mumbai 7-16 April 2014

foto sinta mei 2014 2 

 

           Pertemuan ini dihadiri oleh 14 Partisipan yang berasal dari 6 Negara (India, Bangladesh, Indonesia , Thailand, Myanmar dan Srilanka). Sedangkan Narasumber /fasilitator berasal dari India (Dr Jagadish Deshpande (Director and Scientis Enterovirus Research Centre, Mumbai), Mr Prasanna yergolkar (Virologist WHO/SEARO New Delhi), Dr Lucky Sangal (Laboraty focal person New Delhi), dan Thailand (Ms Sirima Pattamadilok, TIP-Scientist WHO-SEARO New Delhi ). Pembukaan acara pada pertemuan ini diawali dengan menyalakan lilin yang melambangkan sebagai penerang dalam kegelapan, tanda adanya kebersamaan, dan berbagi pengetahuan/pengalaman. Acara ini merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan sebelum pelatihan dilakukan. Adapun Jadwal pelatihan dimulai jam 09.00 pagi sampai 18.00 sore.

Dari Indonesia di wakili oleh Institusi yang berasal dari Bio Farma, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Semua yang hadir ini adalah bagian dari jaringan Laboratorium Polio di Wilayah SEARO.

Tujuan dari Workshop :Mengutamakan pentingnya akurasi, ketepatan waktu dan kelengkapan hasil, Review praktek kerja laboratorium di dalam jaringan laboratorium Polio, Meningkatkan kinerja Laboratorium, Refresh dan Update ketrampilan dari seorang supervisor dalam meningkatkan kinerja lab., Menetapkan implementasi program total quality assurance dan Bio- Risk managemen dalam jaringan laboratorium Polio.

Dalam pertemuan ini juga dibahas beberapa kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan laboratorium polio, antara lain: Praktek Laboratorium tentang Cell subculture, Mycoplasma testing, preparasi Cell bank, kandungan media, Biosafety Laboratory , Cell Sensitivity, ketrampilan mikroskopis dalam observasi CPE (Cyto Phatic Effect ), tes rRT PCR, pemeliharaan alat lab dan kalibrasi, Internal Quality Control, Check list Accrediation, dan preparasi FTA card dan pengiriman specimen/isolat dan cell untuk pemeriksaan adanya Mikoplasma. Pelatihan RT-PCR lebih ditekankan pada partisipan dari Jakarta (lab. Polio PBTDK) dan Surabaya ( Balai Besar Laboratorium Kesehatan), karena dari jaringan lab .Polio SEARO hanya dua laboratorium yang belum melakukan tes PCR tersebut. Pelatihan dilakukan intensif selama 5 hari terakhir dengan satu orang instruktur. Materi yang diberikan meliputi praktek melakukan ITD tes, VDPV tes, menjalankan tes dengan alat PCR AB (Applied Biosytem 7500) , analisis hasil, Kalibrasi alat, pengisian worksheet, eksport data ke power point dengan Microsoft 2003 untuk pengiriman hasil ke CDC. Dari pelatihan ini diharapkan kedua lab tersebut sudah siap menghadapi Proficiency Test (PT) Phanel pada bulan Juni 2014.

Pada hari terakhir pelatihan dilakukan pemberian sertifikat pada semua Partisipan dan standing party dengan melibatkan semua pegawai laboratorium yang ada.(S)

 

Orientation ForEpi Data Managers On Vaccine Preventable Disease (VPD) Surveillance With Focus On Enhanced Measles Surveillance

 

fotobangkit mei 2014

 

Untuk mendukung komitmenmenghilangkancampakdan kontrol rubella/ Congenital Rubella Syndrom (CRS) padatahun 2020, semuanegaradibawah WHO Kawasan Asia Tenggara (South East Asia Regional Office) melakukan pertemuan pada tanggal 29 April – 1 Mei 2014, bertempat di New Delhi India. Pertemuan ini bertujuan untuk Sosialisasi tentang management pengambilan data untuk cased based (Kasus Individu); Sosialisasi tentang Rekomendasi Indikator performance untuk Campak dan Rubella Surveillans dan juga Diskusi tentang Format dan Periode waktu pengiriman pelaporan Cased Based (Kasus Individu).

Pesertayang hadir adalah dari 11 negara yaitu : Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Indonesia, Maldive, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste. Dalam pertemuan ini juga hadir Perwakilan dari WHO-HQ Genewa dan Perwakilan dari CDC-Atlanta. Pertemuan dibuka oleh Dr. Sangay Thinley selaku Direktur Departemen penelitian dan Kesehatan Keluarga WHO-SEARO. Untuk selanjutnya acara dipandu oleh Narasumber dari WHO dan CDC Atlanta.Indonesia dalam pertemuan ini diwakilkan oleh Subangkit, M,Biomed (Litbangkes-PBTDK) dan Indra Jaya, SKM, M.Epid (P2PL-Subdit Surveillans). WHO Country Representatif Indonesia juga mengirimkan 2 wakilnya dalam pertemuan ini yaitu dr. Rusipah Mursito, M.Kes dan Haditya Mukri, M.Kes.

Dalam pertemuan disepakati bahwa Pengiriman Laporan untuk kasus campak/Rubella akan dilakukan secara Mingguan dengan format yang seragam serta rencana perluasan jejaring Laboratorium Campak yang tadinya hanya 4 laboratorium menjadi 6 atau lebih agar lebih efektif dan efisien. (S)

Kegiatan training ini dilakukan berdasarkan pada teori perkuliahan (lecture) dan praktikum (hands on) yang berkaitan dengan campak dan rubella.  Materi Perkuliahan yang diberikan adalah tentang update program global WHO kasus campak-rubella terhadap target dan goal eliminasi campak dan rubella tahun 2020 di 5 region WHO (AFRO, EURO, EMRO, SEARO dan WPRO), status sekarang dan peran laboratorium pendukung untuk eliminasi campak dan pengendalian rubella/CRS di region, pengantar untuk epidemiologi molekular virus campak-rubella dan metode molekular  (real time RT-PCR, genotyping RT-PCR dengan gel elektroforesis dan sequencing) untuk deteksi virus campak-rubella, quality control untuk tes molekular, database global (MeaNS dan RubeNS) untuk campak dan rubella, genotype campak dan rubella di wilayah SEAR, serta masalah dan tantangan laboratorium regional, dan country report masing-masing negara mengenai performa laboratorium selama periode 2011-2013.