Berita Terkini:
Pelatihan PCR Genotyping Campak dan Rubella serta Deteksi Mycoplasma pada Sel Kultur dengan Metode PCR, BBLK Surabaya, 15-17 Mei 2017 Selama 2 hari (15-17 Mei 2017) Puslitabng BTDK mengadakan pelatihan Cycles Sequens dan Deteksi Mycoplasma secara PCR bagi jejaring lab. Polio dan Campak.  Pada hari pertama (15/05/2017) diawal dengan paparan dari PT.Biofarma mengenai PCR Sequencing virus Campak dan Rubella. Dilanjutkan dengan praktek langsung di lab. (hands on) melakukan elektroforesis gel untuk pemrosesan amplikon virus Campak yang positif ditandai dengan terdeteksi pita DNA pada band tertentu. Purifikasi DNA dan tahap PCR siklus sekuensing virus Campak. Pada hari kedua (16/05/2017) Kegiatan lanjutan dengan melakukan proses yang sama pada hari pertama dengan mendeteksi virus Rubella yang positif.  Dilanjutkan dengan presentasi dengan narasumber dari PT. Biofarmamengenai deteksi Mycoplasma menggunakan metode PCR konvensional. Berikutnya praktek langsung ke lab untuk membuat standar screening  sel kultur rutin yang digunakan di lab. Polio dan Campak (cellines screening ). Kemudian pada hari terakhir  (17/05/ 2017) Praktek di lab. dengan melakukan elektroforesis gel untuk Mycoplasma dengan sel RD, L20B dari Vero Slam (VS). Dilanjutkan dengan diskusi kelompok menghasilkan kesimpulan dan penutupan acara pelatihan. - Tuesday, 11 July 2017 12:09
Packaging and Shipping for Respiratory and CSF Specimen Training Course Vietnam 10-12 April 2017        The Association of Public Health Laboratories (APHL), United State Center for Disease Control and Prevention (CDC) dan Ministry of Health Thailand sebagai bagian dari Global Health Security Agenda (GHSA) mengadakan pelatihan pengepakan dan pengiriman untuk Respiratory dan CSF spesimen pada tanggal 10 – 12 April 2017 bertempat di Hilton Hotel Hanoi Vietnam. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah menyampaikan informasi dan praktek mengenai pengambilan, pengepakan dan pengiriman spesimen yang berfokus pada rantai dingin dan mengikuti persyaratan International Air Transport Association (IATA) untuk spesimen saluran pernafasan (respiratory) dan Cairan Otak (Spesimen CSF).       Narasumber Pelatih dan Instruktur pada kegiatan ini adalah dari PHL dan CDC-Atlanta. Konsep yang diterapkan pada pelatihan ini adalah adalah International Best Practise dengan mengedepankan praktikum; diskusi dan sharing pengalaman masing-masing negara ditambah paparan materi dari narasumber.  Adapun Peserta yang hadir berjumlah 15 orang dari 4 negara yang berbeda yaitu Indonesia; Bangladesh; Pakistan dan Vietnam. Laboratorium Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dalam hal ini mengirimkan 2 orang staff Laboratorium untuk mengikuti pelatihan ini yakni Arie Ardiansyah Nugraha dan Subangkit. Setelah mengikuti pelatihan tersebut, kedua orang tersebut dinyatakan lulus memenuhi syarat sebagai pelatih pengepakan sesai dengan standar regulasi IATA.   - Tuesday, 11 July 2017 11:24
GHSA Scorecard Review Meeting, Jakarta, 15 Juni 2017         Sesi Photo bersama kegiatan GHSA Scorecard Review Meeting, Double Tree Hotel  - Jakarta 15 Juni 2017. Budiyanto, ST (urutan berdiri ke-2 dari sebelah kiri);Irene Lorinda I,PhD (urutan berdiri ke-2 dari sebelah kiri) dan Subangkit (urutan berdiri paling kanan)         Sebagai tindak lanjut dari komitmen Indonesia dalam Global Health Security Agenda (GHSA) dalam upaya meningkatkan kapasitas negara untuk menghadapi kemungkinan ancaman pandemi penyakit, sebagai dampak dari globalisasi. Maka pada tanggal 15 Juni 2017 bertempat di Hotel Double Tree Jakarta diadakan pertemuan Review GHSA Scorecard dengan pembicara Samantha Dittrich (APHL – Washington DC). Pertemuan ini terselenggara atas kerjasama Kemenkes RI (Ditjen P2P) dan CDC – APHL (Association of Public Health Laboratories). Hadir dalam pertemuan tersebut perwakilan dari P2P (subdit SKK); BBTKL Jakarta; CDC-Atlanta Representatif. Sementara Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan mengirimkan 2 orang wakilnya dalam pertemuan tersebut yaitu Irene Lorinda I,PhD (Peneliti) Subangkit,M.Biomed (Staff Laboratorium), serta Budiyanto, ST (Mekanikal Engeneering Lab. PBTDK)          Adapun Pertemuan ini merupakan Pertemuan Perkenalan/Sosialiasi GHSA Scorecard yang merupakan Tool (alat) untuk mengidentifikasi Sistem Respon Jejaring Laboratorium dengan mengadopsi sistem Penilaian (assesment) menyeluruh tentang kemampuan Core Capabilities yang dibutuhkan untuk mencapai semua standar laboratorium sesuai dengan global health security Agenda (GHSA). Terdapat 9 Core Capabilities yang dkur dalam Tools Ini diantaranya  1. Political, legal, regulatory, and financial framework; 2.Structure and organization of the laboratory network; 3. Coverage and Rapid Response; 4.Laboratory Information; 5. Infrastructure; 6.Laboratory Workforce; 7. Quality of Laboratory Services; 8. Biosafety and Biosecurity; 9.Priority Diseases. Setiap Core Capabilities terdiri dari komponen yang nantinya akan dijabarkan menjadi pertanyaan yang relevan dengan penilaian pertanyaan berdasarkan skoring maturitas dengan tingkatan 0-5 (nilai ) untuk yang paling rendah sedangkan nilai 5 untuk yang paling tinggi. Hasil Assesment nantinya akan didapatkan secara kuantitatif serta melihat kelemahan setiap Core Capabilities (melalui sistem skoring). Tools ini sudah diaplikasikan di Uganda tahun 2016. - Tuesday, 11 July 2017 11:11
Pelatihan penatalaksanaan penatalaksanaan spesimen penyakit berpotensi wabah di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Jakarta, 16 Mei 2017   Salah satu upaya yang dilakukan oleh indonesia dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit berpotensi wabah diantaranya adalah meningkatkan deteksi dini pertemuan kasus dengan melakukan pemeriksaan berbasis laboratorium melalui surveillans berbasis kejadian di Jajaran Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota. Laboratorium merupakan salah satu ujung tombak penegakan diagnosa, untuk  kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit berpotensi wabah. Adapun persiapan laboratorium diantaranya yang terpenting adalah sumber daya manusia. Oleh karenanya di butuhkan pedoman terstandar (SOP) terkait penatalaksanaan spesimen penyakit berpotensi wabah.     Berkenaan dengan hal tersebut pada tanggal 16 Mei 2017 Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat menyelenggarakan pelatihan penatalaksanaan spesimen penyakit berpotensi wabah dengan peserta dari Rumah Sakit dan Puskesmas yang tersebar diwilayahnya dengan  Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar (PBTDK) sebagai Narasumber kegiatan tersebut. Kambang Sariadji, M.Biomed (PJ Laboratorium Bakteriologi PBTDK) memberikan materi berupa penatalaksanaan Spesimen penyakit berpotensi wabah kausal bakteri (Difteri, Antraks, Pertusiss, Leptospirosis, dll) Sedangkan  Subangkit, M.Biomed (Peneliti PBTDK) memberikan materi berupa penatalaksanaan Spesimen penyakit berpotensi wabah kausal virus (Flu Burung, MERS-Cov, Polio, Campak, Penyakit Kuku dan Mulut (HFMD), dan Chikungunya)   - Tuesday, 11 July 2017 04:25
Introduction to Biological Safety Cabinet Technology: User’s Essensials Workshop” 4-6 Juli 2017 Nonthaburi- Thailand.   Sesi Photo bersama kegiatan “ Introduction to Biological Safety Cabinet Technology: User’s Essensials Workshop” Richmond Stylish Convention Hotel, Nonthaburi. Thailand, 4-6 Juli 2017. Budiyanto, ST (urutan berdiri ke-1  dari sebelah kiri); Alwi Hasbullah, amd (urutan berdiri ke-1 dari sebelah kanan).   Biosafety dan Biosecurity telah menjadi perhatian global dan telah dinyatakan dalam isu-isu dalam WHO Internasional Health Regulation, dan Global Health Security Agenda (GHSA). Kanada adalah Leading Country untuk paket GHSA Prevent-3 dalam Paket Biosafety dan Biosecurity dan Thailand adalah Leading Country untuk Detect-1 National Laboratory System yang salah satu kegiatan dalam paket tersebut adalah untuk memberikan dukungan untuk Biosafety. Dalam hal ini, Department of Medical Sciences, Ministry of Public Health of Thailand telah diberikan oleh GPP (Global Partnership Program) untuk melaksanakan proyek yang berjudul “Biosafety engineering and control for health laboratories in ASEAN”. Kerjasama ini tidak hanya mempromosikan kerjasama jangka panjang antara Thailand dan Kanada dalam bekerja sama menuju tujuan GHSA namun juga berfungsi sebagai target langsung paket Prevent 3 sebagai pengembangan Biosafety di kawasan ASEAN.  Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Thailand untuk pengembangan Biosafety di kawasan ASEAN adalah Menyediakan Workshop pengenalan teknologi BSC (Biosafety Cabinet) untuk negara anggota ASEAN. Workshop tersebut dihadiri Perwakilan dari negara Indonesia, thailand, Filipina, Kamboja, Myanmar, Vietnam dan Laos. Indonesia sendiri diwakili Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan mengirimkan 2 orang wakilnya dalam pertemuan tersebut Budiyanto, ST dan Alwi Hasbullah, amd.  Adapun Pelatihan ini merupakan pelatihan pengenalan mengenai BSC dan pengenalan mengenai sertifikasi BSC. Seperti yang kita ketahui Untuk memastikan bahwa peralatan BSC bekerja dengan benar, BSC perlu menjalani perawatan dan sertifikasi ulang secara teratur. Proses ini biasanya dilakukan oleh perusahaan swasta yang menjual peralatannya. Namun, hasil dari US-CDC-Thailand mengenai sertifikasi BSC menunjukkan bahwa hanya 30% dari BSC yang dapat lulus sertifikasi dengan standar AS-NSF / ANSI49. Berbagai masalah diidentifikasi seperti pemasangan yang salah, sertifikasi yang tidak semestinya, kurangnya pemahaman pengguna, dan lain-lain. Untuk mengatasi masalah ini, pengguna BSC harus memiliki pengetahuan tentang Biosafety Engineering Control. Selanjutnya, pengguna harus bisa memantau kinerja sub kontraktor yang menjual, mengesahkan dan merawat BSC. Workshop ini terdiri beberapa bagian dari dimulai dari pengetahuan dasar sampai menengah yang dirancang untuk orang yang berencana untuk terbiasa dengan prosedur sertifikasi BSC sesuai standar NSF / ANSI 49 dan EN12469. pelatihan langsung diberikan kepada peserta untuk memahami sepenuhnya semua langkah dalam sertifikasi BSC. Juga perbedaan antara sertifikasi BSC tipe A dan tipe B dibahas secara rinci. Kursus ini berfokus pada rincian prosedur sertifikasi BSC dan bagaimana setiap parameter dapat diuji. Selain itu, peralatan yang disiapkan, persyaratan penggunaan dan kalibrasi dibahas secara rinci. - Monday, 10 July 2017 10:59
Halal Bihalal Idul Fitri 1437 H, 3 Juli 2017 Halal Bi Halal Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan   Halal Bihalal merupakan tradisi rutin pasca libur lebaran (Hari Raya Idul Fitri) biasa dilakukan di Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Tadi pagi (3/7/2017) Puslitbang BTDK mengadakan Halal Bi Halal saat hari pertama masuk kerja usai libur Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan ini diselenggarakan di Lobby kantor Puslitbang BTDK sejak pukul 07.00 sampai sekitar pukul 08.00 WIB dihadiri sekitar 100 orang pegawai di lingkungan Pusltibang BTDK . Halal Bi Halal ini dihadiri Kepala Puslitbang BTDK (Prety Multihartina, PhD), beserta pejabat eselon III dan IV dibawahnya.          Penyelenggaraan Halal Bihalal ini merupakan kegiatan yang dapat membangun komunikasi antara pejabat dan staf di lingkungan Puslitbang BTDK demikian disampaikan oleh Sdr. Nanang Yunantosaat menyampaikan doa penutup pada saat acara. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menilai kedisiplinan pegawai di hari pertama kerja usai libur lebaran, sebagaimana diumumkan bahwa rekap absensi sudah harus diserahkan pada pukul 09.00 ke Biro Kepegawaian. Halal Bi Halal kali ini diisi dengan kegiatan bersalam-salaman dan foto bersama di akhir acara. Semoga acara ini akan semakin mempererat tali silahturahmi antar pegawai dilingkungan Puslitbang BTDK. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.  - Sunday, 02 July 2017 14:12
Puslitbang BTDK menyambut datangnya bulan Suci Ramadhan bersama Astri Ivo, 26 Mei 2017 Hari Jum’at, 26 Mei 2017  Puslitbang BTDK kedatangan artis tahun 1980 Astri Ivo, yang sudah kini menjadi ustadzah berkesempatan hadir ditengah tengah Karyawan Puslitbang Biomedis dan TDK untuk memberikan tauziahnya mengenai datangnya bulan suci Ramadhan  pada saat pertemuan rutin bulanan dilaksanakan.  Dalam salah satu tauziahnya Ustadzah memberikan semangat  kepada seluruh karyawan bahwa bekerja bukan semata mata hanyalah bekerja tapi juga menjalankan amanah sekaligus Ibadah.   Banyaknya kejadian korupsi yang terjadi akhir akhir ini merupakan dari perwujudan dari bekerja yang tidak amanah dan rasa keserakahan yang membuat manusia lupa akan tugas dan tanggungjawabnya dan sekaligus tidak adanya rasa bersyukur sehingga merasakan dirinya selalu hidup dalam kekurangan.  Acara diakhiri dengan ramah tamah dan ditutup dengan makan bersama. - Sunday, 28 May 2017 13:55
Assesment Surveilans Komite Akreditasi Nasional di Laboratorium Farmasi Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan 21 April 2017 Assesment Surveilans Komite Akreditasi Nasional di Laboratorium Farmasi Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan 21 April 2017   Pada hari Jumat tanggal 21 April 2017, Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan kedatangan Dr. Evita Boes, M.Sc, Assesor Komite Akreditasi Nasional (KAN) dalam rangka Assesment Surveilans terhadap Laboratorium Farmasi, Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Laboratorium Farmasi adalah satu-satunya laboratorium di Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan yang telah terakreditasi KAN ISO/IEC 17025:2005 Sistem Manajemen Mutu Laboratorium. Tujuan dari assesment ini adalah memastikan konsistensi penerapan  ISO/IEC 17025:2005 selama masa akreditasi.   Pertemuan Assesor KAN dengan Koordinator Laboratorium, Manajer Mutu, Manajer Teknis dan Litkayasa Laboratorium Farmasi  Assesor KAN Kunjungi Laboratorium Farmasi    Hadir dalam assesment ini adalah Drs. Bambang Heriyanto, M.Kes selaku Koordinator Laboratorium Nasional, Dra. Ani Isnawati, M.Kes, Apt selaku Manajer Teknis, Indri Rooslamiati, M.Sc, Apt selaku Manajer Mutu dan para personel laboratorium Farmasi. Dengan telah dilakukannya assesment tersebut diharapkan laboratorium Farmasi dapat terus meningkatkan kulaitas laboratorium dan mempertahankan predikat akreditasi dari KAN.    (NY)   - Tuesday, 25 April 2017 06:09
Packaging and Shipping for Respiratory and CSF Specimen Training Course Vietnam 10-12 April 2017   The Association of Public Health Laboratories (APHL), United State Center for Disease Control and Prevention (CDC) dan Ministry of Health Thailand sebagai bagian dari Global Health Security Agenda (GHSA) mengadakan pelatihan pengepakan dan pengiriman untuk Respiratory dan CSF spesimen pada tanggal 10 – 12 April 2017 bertempat di Hilton Hotel Hanoi Vietnam. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah menyampaikan informasi dan praktek mengenai pengambilan, pengepakan dan pengiriman spesimen yang berfokus pada rantai dingin dan mengikuti persyaratan International Air Transport Association (IATA) untuk spesimen saluran pernafasan (respiratory) dan Cairan Otak (Spesimen CSF). Narasumber Pelatih dan Instruktur pada kegiatan ini adalah dari PHL dan CDC-Atlanta. Konsep yang diterapkan pada pelatihan ini adalah adalah International Best Practise dengan mengedepankan praktikum; diskusi dan sharing pengalaman masing-masing negara ditambah paparan materi dari narasumber.  Adapun Peserta yang hadir berjumlah 15 orang dari 4 negara yang berbeda yaitu Indonesia; Bangladesh; Pakistan dan Vietnam. Laboratorium Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dalam hal ini mengirimkan 2 orang staff Laboratorium untuk mengikuti pelatihan ini yakni Arie Ardiansyah Nugraha dan Subangkit. Setelah mengikuti pelatihan tersebut, kedua orang tersebut dinyatakan lulus memenuhi syarat sebagai pelatih pengepakan sesai dengan standar regulasi IATA.         - Monday, 24 April 2017 14:59
Regional Workshop on Biorisk Coomunication: A Training of Trainers, Philipina 23-25 Maret 2017     CRDF Global bekerja sama dengan University of Philippines dan Departement of Interior and Local Government menyelenggarakan Regional Workshop on Biorisk Coomunication:  A Training of Trainers yang berangsung pada tanggal 23-25 Maret 2017 bertempat di Jpark Island Resort-Cebu, Philippines. Kegiatan Wokrshop ini dibawah bimbingan Red Wheel Global Health yang memfasilitasi dan memberikan bimbingan teknis. Pada acara workshop ini dihadiri oleh 25 peserta perwakilan dari Philippines, Malaysia dan Indonesia. Delegasi dari Indonesia diwakili oleh Nanang Yunarto, M.Si, MBA, Apt, dr. Nelly Puspandari, dr. Herna Hariandja dari Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, dan dr. Antonius Oktavian dari Balai Litbang Biomedis Papua. Selama tiga hari berlangsungnya workshop, peserta diberikan materi mengenai strategi dalam komunikasi biorisiko, koordinasi multisektoral dan perencaan dalam komunikasi biorisiko dan cara mebuat rencana pelatihan komunikasi biorisiko. Setelah mengikuti workshop ini, para peserta diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan ketrampilan yang berhubungan dengan komunikasi efektif biorisko, meningkatkan koordinasi dan informasi multi sektoral dalam kejadian luar biasa maupun tanggap darurat kesehatan,  saling tukar informasi strategi komunikasi biorisiko, kebijakan dan prosedur yang efektif baik di daerah maupun nasional. (NY-NP-HH) - Monday, 03 April 2017 15:09
Pertemuan Tahunan Jejaring Laboratorium Nasional Polio dan Campak di Bandung 20-22 Maret 2017   Jejaring Laboratorium Polio dan Campak yang bernaung pada Peraturan KepMenkes RI No. HK.02.02/MENKES/322/2015, memegang peranan penting dalam upaya program Eradikasi Polio dan Eliminasi Campak serta Kontrol terhadap Rubella. Secara berkala setiap Laboratorium dilakukan proses akreditasi oleh WHO untuk memastikan bahwa kualitas hasil laboratorium tetap terjaga. Untuk memperkuat jaringan laboratorium polio dan campak, penanggung jawab dan staf teknis laboratorium polio dan campak melakukan pertemuan rutin. Pertemuan ini akan membahas tentang pengelolaan laboratorium polio nasional WHO dan campak dalam kaitannya dengan pengawasan dan wabah Acute Flaccid Paralysis (AFP) maupun campak . Selain itu pertemuan ini juga membahas tentang pengetahuan baru atau update kondisi eradikasi polio dan eliminasi campak di Indonesia, regional South East Asia dan global serta strategi yang akan diterapkan oleh program untuk mencapai eradikasi polio global 2018 dan Eliminasi Campak  2020.Pertemuan ini juga merupakan wadah untuk berbagi pengalaman dalam pemeriksaan laboratorium serta koordinasi untuk memecahkan masalah yang ditemukan di laboratorium.Pertemuan jejaring laboratorium polio dan campak ini sangat diperlukan untuk memperkuat jaringan laboratorium di Indonesia. Pertemuan yang diadakan oleh PT Biofarma ini dilaksanakan di Bandung dihadiri oleh penanggung jawab dan staf teknis laboratorium Polio dan campak dari PT Biofarma, Puslitbang BTDK Badan Litbangkes (dr. Mursinah, SpMK, dr. Herna, SpMK, Nike Susanti, SSi, Sinta Purnamawati, SKM, MKes, Ratumas Roosmawati, SKM, Asri Febriani, SSi, dan Eko Suharyanto), BLK Di Yogyakarta dan BBLK Surabaya, petugas surveilans dari provinsi dan staf pengawasan dari pemerintah pusat, staf EPI data serta perwakilan WHO Indonesia. Beberapa informasi disampaikan mengenai kondisi eradikasi polio dan eliminasi campak saat ini beserta tantangannya.Penurunan kinerja surveilans dalam penemuan kasus dan rendahnya cakupan immunisasi membuat Indonesia rentan untuk terjadi wabah poliomielitis ataupun campak dan laboratorium memiliki peranan penting untuk menegakkan diagnosa. Untuk meningkatkan kualitas laboratorium dan surveilans serta terpenuhinya keperluan laboratorium maka pada pertemuan ini dihasilkan beberapa rekomendasi yang harus ditindak lanjuti oleh laboratorium polio dan campak serta surveilans. Rekomendasi meliputi penerapan rekomendasi onsite review laboratorium polio tahun 2016, pemeriksaan antibodi staff terhadap virus polio yang akan di lakukan oleh laboratorium nasional polio PT Biofarma, dan pengadaan bahan pemeriksaan oleh instansi masing-masing dalam rangka menghadapi exit strategi WHO tahun 2018. Selain itu surveilans pusat juga diharapkan dapat meningkatkan capacity building petugas surveilans di daerah dan menjamin ketersedian reagen untuk pemeriksaan laboratorium polio dan campak.    - Sunday, 02 April 2017 09:07
Pertemuan AMR, February 2017 Pertemuan AMR, February 2017     - Wednesday, 01 March 2017 06:46
Kunjungan Menteri Kesehatan, Februari 2017 Kunjungan Menteri Kesehatan ke PuslitbangBiomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan     Didampingi oleh beberapa pejabat dilingkungan Kementerian Kesehatan RI. pada tanggal 10 February Menteri Kesehatan Prof. Dr.dr. Nila Moelek, Sp.M berkesempatan untuk hadir mengunjugi laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi (Prof. Oemijati) Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Kedatangan Menteri Kesehatan juga dalam rangka mengunjungi beberapa fasilitas laboratorium yang ada di Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan yakni tentang tata kelola spesiman biomedis dan rencana pembangunan sarana biorespository yang nantinya akan dibangun besebelahan dengan gedung utama Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof. Oemijati.         - Tuesday, 28 February 2017 07:32
Forum Pengelolaan Jurnal Ilmiah, February 2017 Forum Pengelolaan Jurnal Ilmiah   Salah satu produk dari Badan Litbang Kesehatan adalah publikasi, saat ini kurang lebih ada sekitar 20 jurnal yang tersebar di seluruh satker dibawah koordinasi Badan Litbang Kesehatan. Dari jumlah keselurahan, ada sakitar 10 jurnal yang belum terakreditasi. Akreditasi jurnal ditujukan untuk meningkatan standar dari pengelolaan jurnal termasuk dengan substansi artikel yang diterbitkan.  Pembinaan jurnal ilmiah pada institusi penelitian  di Indonesia dibawah pembinaan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) untuk lebih meningkatkan kualitas jurnal dan jumlah sitasi.  Sejak tahun 2016 LIPI memberlakukan pengelolaan dan penerbitan jurnal secara online yang dikenal dengan OJS (Opern Jurnal Sistim). Peralihan dari sistim lama ke sistim baru memerlukan banyak latihan baik bagi pengelola, penulis, reviewer maupun bagi pembaca.    Kepala Bagian UDJ menyampaikan arahan saat pembukaan kegiatan pengelolaan jurnal ilmiah Bertempat di Hotel Santika, Sekretariat Badan Litbangkes sebagai koordiantor jurnal di seluruh satker mengadakan pertemuan pengelolaan jurnal ilmiah dengan mengundang pakar pakar bidang publikasi karya tulis ilmiah. Dalam pertemuan tersebut dibahas mengenai etika publikasi dengan isu plagiarisme dan salami yang dibawakan oleh Prof. Dr. Gono Semiadi dari LIPI. Dalam paparanya Prof Gono menyampaikan bagaimana suatu artikel digolongkan sebagai artikel yang disebut dengan salami.     - Friday, 24 February 2017 02:58
Koordinasi Penanggulangan Spesimen Kasus Antraks di PBTDK, Januari 2017 Koordinasi Penanggulangan Spesimen Kasus Antraks di PBTDK       Antraks merupakan penyakit menular akut yang bersifat zoonosis dan berpotensi wabah. Seiring dengan adanya laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks yang terjadi di Propinsi Jogjakarta Kabuptaen kulonprogo. Mengingat adanya kasus antraks yang menyerang manusia, maka tugas kementerian kesehatan untuk mendiagnosis hal tersebut. Badan litbangkes khususnya Laboratorium Pusat Penyakit Infeksi - Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (PBTDK) berperan sebagai laboratorium rujukan penyakit berpotensi wabah termasuk antraks telah bersiap untuk melakukan pemeriksaan kasus antraks tersebut.   Persiapan penganggulangan spesimen kasus antraks pada dimulai tanggal 27 januari 2017 dengan melakukan rapat koordinasi antara Koordinator Laboratorium Pusat Penyakit Infeksi (Drs. Bambang heriyanto, M.Kes); Tim Biorisiko-PBTDK; dan Penanggung Jawab Lab. Bakteriologi (Kambang S.MBiomed) beserta stafnya. Turut hadir juga Penanggung Jawab BSL-3 (dalam hal ini diwakili oleh DR.dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed yang telah berpengalaman masuk dan berkerja di BSL-3).   Adanya rapat koordinasi ini bertujuan untuk membahas hal-hal yang bersifat teknis pemeriksaan laboratorium Antraks. Dalam koordinasi dibahas tentang tatacara masuk ke BSL-3 sebelum bekerja dengan antraks. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah dibahasnya Penilaian Resiko (Risk Assesment) terhadap Antraks. (SB)   - Thursday, 23 February 2017 03:10

WHO –SEAR Inter Country Training for Polio Laboratory Supervisors,

Mumbai 7-16 April 2014

foto sinta mei 2014 2 

 

           Pertemuan ini dihadiri oleh 14 Partisipan yang berasal dari 6 Negara (India, Bangladesh, Indonesia , Thailand, Myanmar dan Srilanka). Sedangkan Narasumber /fasilitator berasal dari India (Dr Jagadish Deshpande (Director and Scientis Enterovirus Research Centre, Mumbai), Mr Prasanna yergolkar (Virologist WHO/SEARO New Delhi), Dr Lucky Sangal (Laboraty focal person New Delhi), dan Thailand (Ms Sirima Pattamadilok, TIP-Scientist WHO-SEARO New Delhi ). Pembukaan acara pada pertemuan ini diawali dengan menyalakan lilin yang melambangkan sebagai penerang dalam kegelapan, tanda adanya kebersamaan, dan berbagi pengetahuan/pengalaman. Acara ini merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan sebelum pelatihan dilakukan. Adapun Jadwal pelatihan dimulai jam 09.00 pagi sampai 18.00 sore.

Dari Indonesia di wakili oleh Institusi yang berasal dari Bio Farma, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Semua yang hadir ini adalah bagian dari jaringan Laboratorium Polio di Wilayah SEARO.

Tujuan dari Workshop :Mengutamakan pentingnya akurasi, ketepatan waktu dan kelengkapan hasil, Review praktek kerja laboratorium di dalam jaringan laboratorium Polio, Meningkatkan kinerja Laboratorium, Refresh dan Update ketrampilan dari seorang supervisor dalam meningkatkan kinerja lab., Menetapkan implementasi program total quality assurance dan Bio- Risk managemen dalam jaringan laboratorium Polio.

Dalam pertemuan ini juga dibahas beberapa kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan laboratorium polio, antara lain: Praktek Laboratorium tentang Cell subculture, Mycoplasma testing, preparasi Cell bank, kandungan media, Biosafety Laboratory , Cell Sensitivity, ketrampilan mikroskopis dalam observasi CPE (Cyto Phatic Effect ), tes rRT PCR, pemeliharaan alat lab dan kalibrasi, Internal Quality Control, Check list Accrediation, dan preparasi FTA card dan pengiriman specimen/isolat dan cell untuk pemeriksaan adanya Mikoplasma. Pelatihan RT-PCR lebih ditekankan pada partisipan dari Jakarta (lab. Polio PBTDK) dan Surabaya ( Balai Besar Laboratorium Kesehatan), karena dari jaringan lab .Polio SEARO hanya dua laboratorium yang belum melakukan tes PCR tersebut. Pelatihan dilakukan intensif selama 5 hari terakhir dengan satu orang instruktur. Materi yang diberikan meliputi praktek melakukan ITD tes, VDPV tes, menjalankan tes dengan alat PCR AB (Applied Biosytem 7500) , analisis hasil, Kalibrasi alat, pengisian worksheet, eksport data ke power point dengan Microsoft 2003 untuk pengiriman hasil ke CDC. Dari pelatihan ini diharapkan kedua lab tersebut sudah siap menghadapi Proficiency Test (PT) Phanel pada bulan Juni 2014.

Pada hari terakhir pelatihan dilakukan pemberian sertifikat pada semua Partisipan dan standing party dengan melibatkan semua pegawai laboratorium yang ada.(S)

 

Orientation ForEpi Data Managers On Vaccine Preventable Disease (VPD) Surveillance With Focus On Enhanced Measles Surveillance

 

fotobangkit mei 2014

 

Untuk mendukung komitmenmenghilangkancampakdan kontrol rubella/ Congenital Rubella Syndrom (CRS) padatahun 2020, semuanegaradibawah WHO Kawasan Asia Tenggara (South East Asia Regional Office) melakukan pertemuan pada tanggal 29 April – 1 Mei 2014, bertempat di New Delhi India. Pertemuan ini bertujuan untuk Sosialisasi tentang management pengambilan data untuk cased based (Kasus Individu); Sosialisasi tentang Rekomendasi Indikator performance untuk Campak dan Rubella Surveillans dan juga Diskusi tentang Format dan Periode waktu pengiriman pelaporan Cased Based (Kasus Individu).

Pesertayang hadir adalah dari 11 negara yaitu : Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Indonesia, Maldive, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste. Dalam pertemuan ini juga hadir Perwakilan dari WHO-HQ Genewa dan Perwakilan dari CDC-Atlanta. Pertemuan dibuka oleh Dr. Sangay Thinley selaku Direktur Departemen penelitian dan Kesehatan Keluarga WHO-SEARO. Untuk selanjutnya acara dipandu oleh Narasumber dari WHO dan CDC Atlanta.Indonesia dalam pertemuan ini diwakilkan oleh Subangkit, M,Biomed (Litbangkes-PBTDK) dan Indra Jaya, SKM, M.Epid (P2PL-Subdit Surveillans). WHO Country Representatif Indonesia juga mengirimkan 2 wakilnya dalam pertemuan ini yaitu dr. Rusipah Mursito, M.Kes dan Haditya Mukri, M.Kes.

Dalam pertemuan disepakati bahwa Pengiriman Laporan untuk kasus campak/Rubella akan dilakukan secara Mingguan dengan format yang seragam serta rencana perluasan jejaring Laboratorium Campak yang tadinya hanya 4 laboratorium menjadi 6 atau lebih agar lebih efektif dan efisien. (S)

Kegiatan training ini dilakukan berdasarkan pada teori perkuliahan (lecture) dan praktikum (hands on) yang berkaitan dengan campak dan rubella.  Materi Perkuliahan yang diberikan adalah tentang update program global WHO kasus campak-rubella terhadap target dan goal eliminasi campak dan rubella tahun 2020 di 5 region WHO (AFRO, EURO, EMRO, SEARO dan WPRO), status sekarang dan peran laboratorium pendukung untuk eliminasi campak dan pengendalian rubella/CRS di region, pengantar untuk epidemiologi molekular virus campak-rubella dan metode molekular  (real time RT-PCR, genotyping RT-PCR dengan gel elektroforesis dan sequencing) untuk deteksi virus campak-rubella, quality control untuk tes molekular, database global (MeaNS dan RubeNS) untuk campak dan rubella, genotype campak dan rubella di wilayah SEAR, serta masalah dan tantangan laboratorium regional, dan country report masing-masing negara mengenai performa laboratorium selama periode 2011-2013. 

Dokumentasi 17 Agustus 2017