Berita Terkini:
Sosialisasi dan Pelatihan Penelitian Serologi Riskesdas TA 2014, 18-20 September 2014   Selama 3 hari di Hotel Acacia belangsung kegiatan sosialisasi dan pelatihan penelitian serologi Riskedas untuk tahun anggaran 2014. Hadir membuka kegiatan Kapusat BTDK (Pretty M., PhD). Dalam pembukaannya disampaikan bahwa nantinya dalam melaksanakan kegiatan penelitian dilaboratorium harus benar-benar diperhatikan masalah biosafety sesuai dengan standard yang telah ditetapkan. Biosafety merupakan suatu konsep yang mengamankan orang yang bekerja dengan suatu bahan biologis. Misalnya orang yang bekerja dengan suatu virus yang dapat menimbulkan penyakit berbahaya maka orang tersebut harus mengunakan sarung tangan. Jadi biosafety adalah suatu konsep yang mengatur orang yang bekerja atau bersnetuhan dengan objek bilogis berbahaya agar terhindar dari bahaya objek biologis tersebut Ka.Pusat BTDK, Pretty M, PhD sedang memberikan arahan kepada tim pemeriksa spesimen Riskedas 2013   Dalam pertemuan tersebut juga dipaparkan mengenai hasil pemeriksaan spesimen Riskesdas (Biomedis) sebelumnya. Sebagaimana diketahui pada tahun 2007 Badan Litbang Kesehatan juga mengumpulkan spesimen (darah) dari sample terpilih. pada tahun 2007 sample dikumpulkan dan diperiksa di RS terdekat sedangkan pada tahun 2013 beberapa pengujian / test diperiksa ditempat.   Dr.Whinie sedang memaparkan  hasil pemeriksaan spesimen Riskesdas tahun 2007 Beberapa materi lainnya yang diberikan pada pertemuan tersebut adalah juga mengenai : Biosafety dan Biosecurity, Pengenalan alat dan bahan yang digunakan, Prinsip kerja/metode pemeriksaan, Alur kerja pemeriksaan di laboratorium dan yang terakhir adalah pemberian tugas. Biosafety dan biosecurity merupakan dua hal yang saling berkaitan. Keduanya mempunyai tujuan untuk menjamin keamanan dari bahaya biologis. Tetapi meski tujuannya sama biosecurity dan biosafety merupakan dua hal yang berbeda. Praktek penggunaan APBD yang baik dan benar untuk mencegah risiko bekerja di laboratorium Biosecurity adalah usaha untuk menjaga suatu daerah dari masuknya agen penyakit, menjaga tersebarnya agen penyakit dari daerah tertentu, dan menjaga agar suatu penyakit tidak menyebar di dalam daerah tersebut. Sedangkan biosafety adalah usaha yang dilakukan agar orang yang bekerja dengan bahan biologi berbahaya terlindungi dari bahan bahaya bahan biologi yang ditanganinya. Materi-materi tersebut penting untuk diperkenalkan mengingat komposisi tim yang melaksanakan penelitian ini dari berbagai disiplin ilmu yang sebagian diantaranya belum pernah bekerja di lingkungan laboratorium. Beberapa Tim Penelitian Serologi Riskesdas saat sesi memperkenalkan diri Hadir sebagai pemandu kegiatan drh. Kharirie   - Friday, 19 September 2014 01:39
Kuliah Umum Mengenai Stem Cell Oleh Professor Hardean E. Achneck, 16 September 2014   Foto bersama sesaat setelah kuliah umum selesai   ASPI (Asosiasi Sell Punca Indonesia) resmi dibentuk pada tahun 2008, merupakan tindak lanjut dari salah satu rumusan Workshop Arah dan Kebijakan Dalam Penelitian dan Pemanfaatan Stem Cell dalam bidang Kedokteran yaitu perlu segera dibentuknya Asosiasi Stem Cell Indonesia yang mewadahi seluruh kominitas Akademi dan  Bisnis  khususnya dengan bantuan pemerintah dalam format ABG (Accademician, Bussinessman dan Government) yang saling bekerjasama agar target yang lebih luas dalam pemanfaatan tekhnologi stem cell dapat meningkat dan segera tercapai.   dr. Lutfah sedang memberikan paparan mengenai penelitian stem Cell di Pusat BTDK    Kapus BTDK, Pretty, M., PhD bersama dengan Prof. Amin S., sebagai salah satu pendiri ASPI Pada kesempatan kali ini ASPI bekerjasama dengan Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan mengundang Professor Hardean E. Achneck, M.D. dari Duke University School of Medicine untuk memberikan kuliah umum di gedung Theather Badan Litbangkes dengan mengundang para peneliti baik dari universitas maupun Badan Litbang Kesehatan. Makalah yang disampaikan oleh Professor Hardean mengenai Blood-Derived Endothelial Progenitor Cells: Potential Application for Regenerative Medicine. Dalam paparannya Professor Hardean menjelaskan mengenai beberapa metode pengembangan dan aplikasi teknologi Stem Cell dalam dunia kedokteran. Sebelumnya paparan mengenai kegiatan kelompok seminat Stem Cell pusat BTDK dalam memanafaatkan teknologi Stem Cell untuk pasien dengan gangguan pengelihatan yang disampaikan oleh dr. Lutfah, SpM. (MB) - Wednesday, 17 September 2014 12:30
Pengenalan Alat SCBA kepada Tim Bio Risiko, 4 September 2014 Pengenalan Alat SCBA kepada Tim Bio Risiko   Laboratorium merupakan sarana pendukung yang penting dalam kegiatan penelitian di Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, aktivitas di laboratorium yang cukup tinggi tentunya juga harus mengantisipasi hal yang tidak diinginkan seperti bahaya kebakaran, oleh karena itu kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia di laboratorium dalam menghadapi hal tersebut harus terus ditingkatkan.  Dalam upaya meningkatkan kesiapan SDM untuk mengatasi bahaya kebakaran, Laboratorium Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan mengadakan  pengenalan alat Self Containent Breathing Apparatus (SCBA) kepada Tim Bio Risiko yang kesehariannya bertugas di laboratorium.  Alat ini berfungsi untuk membantu petugas dalam upaya evakuasi korban  kebakaran.   Instruktur memberikan pengenalan cara menggunakan SCBA   Petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Pusat memberikan pengenalan cara kerja dan cara penggunaan alat untuk digunakan dalam proses evakuasi korban. Aman diri, Aman lingkungan dan aman peralatan merupakan tiga prinsip dasar yang ditekankan oleh Instruktur kepada Tim Bio Risiko Laboratorium Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Kegiatan ini berlansung pada tanggal 4 September 2014,  dibuka oleh Koordinator Laboratorium, Drs. Bambang Heriyanto, M.Kes  diikuti oleh Tim Bio Risiko yang terdiri dari  Tim Pengelola Gedung, Penerima Spesimen, Biosafety dan Bio Security. Kegiatan dilaksanakan di Lantai 3 Laboratorium Penelitian Penyakt Infeksi.    Peserta Kegiatan mencoba alat SCBA   Petugas Lab memasang alat SCBA diawasi oleh instruktur dari DPK, Jakarta Pusat   Kegiatan pengenalan alat SCBA ini rencananya akan lebih diintensifkan pada kegiatan pelatihan pemadam kebakaran yang sudah rutin dilakukan di Laboratorium Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, sehingga Petugas di Laboratorium sudah terlatih untuk melakukan pertolongan pertama apabila terjadi bencana kebakaran. (MHP)   - Monday, 08 September 2014 02:41
Pertemuan Komnas Pinere dalam rangka kesiapsiagaan wabah Ebola, 15 Agustus 2014  Pertemuan Komnas Pinere (Penyakit Infeksi New Emerging dan Re-Emerging) dalam Rangka Kesiapsiagaan Wabah Ebola   Penyakit Ebola disebabkan oleh Virus RNA, Data WHO per tanggal 13 Agustus 2014 menyebutkan total kasus ebola sejumlah 2127 kasus dengan total kematian 1145 orang yang terjadi di sejumlah negara Afrika Barat yaitu Sierra leone, Guinea, Liberia dan Nigeria. Dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi virus ebola, Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI mengadakan pertemuan  Komnas PINERE (Penyakit Infeksi New Emerging dan RE-Emerging yang dilaksanakan di Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan pada tanggal 15 Agustus 2014.   (Kiri-Kanan) : Prof.Dr.dr Agus Purwadianto., SPF (K) (Plt Ditjen PP & PL Kemenkes), Prof. dr.Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE (Kabadan Litbangkes), Pretty Multihartina, Ph.D (Kepala Pusat Biomedis dan Tekdaskes)   Pertemuan ini membahas  upaya yang dilakukan oleh Indonesia dalam menghadapi wabah virus Ebola diantaranya adalah meningkatkan deteksi dini pertemuan kasus di pintu masuk negara dengan melakukan pemeriksaan dan memastikan kebenaran riwayat perjalanan dari negara terjangkit dan meningkatkan kewaspadaan dini diseluruh wilayah Indonesia terhadap kemungkinan masuknya penyakit ke Indonesia melalui surveillans berbasis kejadian di Jajaran Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota    Peserta pertemuan Komnas Pinere saat membahas kesiapsiagaan Wabah Ebola   Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dengan Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi (PPI) merupakan salah satu ujung tombak penegakan diagnosa, untuk kesiapsiagaan dan kewaspadaan dini terhadap wabah ebola. Oleh karena itu pada pertemuan ini juga dibahas persiapan laboratorium diantaranya termasuk kesiapan logistik, sumber daya manusia, fasilitas, dan kerja sama lintas sektor maupun lintas program dan  pedoman terstandar (SOP) terkait wabah Ebola untuk dapat dilakukan sosialisasi dan dikoodinasikan.    Koordinator Laboratorium PPI dan PJ Laboratorium Virologi Pusat Biomedis dan Tekdaskes membahas Draft SOP Laboratorium dalam rangka kesiapsiagaan wabah Ebola   Hadir pada pertemuan ini Kepala Badan Litbangkes RI, Prof. Tjandra Yoga Aditama, PLT Dirjen P2PL Prof Agus Purwadianto, Perwakilan dari Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, Bina Upaya Kesehatan, Pusat Studi Satwa Primata-IPB, Kementerian Pertanian, Balitvet Bogor . Pada pertemuan ini disepakati Draft SOP Laboratorium dalam menghadapi wabah Ebola. (PPID Pusat1)     - Thursday, 04 September 2014 02:24
Pelatihan Vaksinologi “Metode Purifikasi dan Scale Up Protein Rekombinan;Pembuatan Monoklonal Antibodi”, 25 – 29 Agustus 2014 PELATIHAN VAKSINOLOGI “METODE PURIFIKASI DAN SCALE UP PROTEIN REKOMBINAN;PEMBUATAN MONOKLONAL ANTIBODI”, 25 – 29 Agustus 2014   Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes RI, sebagai ketua konsorsium   Dengue mengadakan pelatihan  Vaksinologi Tahap ll mengenai Metode Purifikasi dan Scale Up ProteinRekombinan; Pembuatan Monoklonal Antibodi. dr. C.S. Whinnie Lestari, M.Kes, sebagai ketua konsorsium dengue  pada saat acara  pembukaan pelatihan menyampaikan laporan bahwa peserta pelatihan adalah  anggota Konsorsium Dengue yang berasal dari  Pusat Biomedis dan Tekdaskes Badan Litbangkes, Universitas Indonesia , Lembaga Eijkman, LIPI Serpong, BPPT Serpong, Pusat Studi Satwa Primata (PSSP-IPB) Bogor dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.     Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Pretty Multihartina, Ph.D, memberikan arahan saat pembukaan pelatihan   Pelatihan yang berlansung dari tanggal 25 sd 29 agustus 2014 ini dibuka oleh Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Pretty Multihartina, Ph.D. dalam arahannya Ibu Pretty Multihartina, Ph.D mengharapkan  peserta pelatihan dapat memamfaatkan pelatihan sebaik mungkin dan terus meningkatkan  pengetahuan seiring dengan kemajuan teknologi penelitian yang sangat cepat.   dr. C.S. Whinnie Lestari, M.Kes menyampaikan laporan kegiatan   Pada Kegiatan pelatihan diberikan Materi mengenai Protein dengan Nara Sumber, Danang Waluyo, Ph.D dan Sabar Pambudi, Ph.D dari BPPT serpong, dilanjutkan dengan Praktikum di Laboratorium Imunologi, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. kemudian materi mengenai antibodi monoklonal diberikan oleh Dr. Tjahjani Mirawati Soediro, Ph.D, SpMK dari Fakultas Kedokteran UI yang juga dilanjutkan dengan praktikum di Laboratorium Imunologi.     Nara Sumber dari BPPT menyampaikan materi kepada peserta pelatihan   Suasana Praktikum di Laboratorium Imunologi Materi dan praktikum yang diberikan pada pelatihan ini bermamfaat untuk riset vaksin dan pengembangan Kit Diagnostik. Pelatihan yang berlansung selama 5 hari ini ditutup oleh Kepala Bidang Biomedis, dr. Roselinda, M.Epid.(PPID Pusat1)   - Friday, 29 August 2014 06:05
Desk Usulan Anggaran Tahun 2015, 20 - 21 Agustus 2014 Desk Usulan Anggaran Tahun 2015 Desk Staf Sub Bag PKS dengan Peneliti Dalam Rangka persiapan kegiatan tahun anggaran 2015, Sub Bagian Progam dan Kerjasama Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kegiatan melaksanakan Desk dengan Penanggung Jawab Kegiatan Tahun anggaran 2015 di Aula Lt.2 Pusat Biomedis dan Tekdaskes. Pada Pertemuan ini dilakukan pembahasan mengenai sinkronisasi anggaran dan output baik kegiatan Penelitian dan dukungan Manajemen yang akan dilaksanakan pada tahun anggaran 2015. disamping itu dilakukan koreksi TOR, RAB dan data dukung oleh penanggung jawab P2ME, Sub Bagian Program dan Kerjasama   Koreksi TOR, RAB dan Data Dukung Peneliti dengan PJ P2ME     - Friday, 22 August 2014 08:49

WHO –SEAR Inter Country Training for Polio Laboratory Supervisors,

Mumbai 7-16 April 2014

foto sinta mei 2014 2 

 

           Pertemuan ini dihadiri oleh 14 Partisipan yang berasal dari 6 Negara (India, Bangladesh, Indonesia , Thailand, Myanmar dan Srilanka). Sedangkan Narasumber /fasilitator berasal dari India (Dr Jagadish Deshpande (Director and Scientis Enterovirus Research Centre, Mumbai), Mr Prasanna yergolkar (Virologist WHO/SEARO New Delhi), Dr Lucky Sangal (Laboraty focal person New Delhi), dan Thailand (Ms Sirima Pattamadilok, TIP-Scientist WHO-SEARO New Delhi ). Pembukaan acara pada pertemuan ini diawali dengan menyalakan lilin yang melambangkan sebagai penerang dalam kegelapan, tanda adanya kebersamaan, dan berbagi pengetahuan/pengalaman. Acara ini merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan sebelum pelatihan dilakukan. Adapun Jadwal pelatihan dimulai jam 09.00 pagi sampai 18.00 sore.

Dari Indonesia di wakili oleh Institusi yang berasal dari Bio Farma, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Semua yang hadir ini adalah bagian dari jaringan Laboratorium Polio di Wilayah SEARO.

Tujuan dari Workshop :Mengutamakan pentingnya akurasi, ketepatan waktu dan kelengkapan hasil, Review praktek kerja laboratorium di dalam jaringan laboratorium Polio, Meningkatkan kinerja Laboratorium, Refresh dan Update ketrampilan dari seorang supervisor dalam meningkatkan kinerja lab., Menetapkan implementasi program total quality assurance dan Bio- Risk managemen dalam jaringan laboratorium Polio.

Dalam pertemuan ini juga dibahas beberapa kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan laboratorium polio, antara lain: Praktek Laboratorium tentang Cell subculture, Mycoplasma testing, preparasi Cell bank, kandungan media, Biosafety Laboratory , Cell Sensitivity, ketrampilan mikroskopis dalam observasi CPE (Cyto Phatic Effect ), tes rRT PCR, pemeliharaan alat lab dan kalibrasi, Internal Quality Control, Check list Accrediation, dan preparasi FTA card dan pengiriman specimen/isolat dan cell untuk pemeriksaan adanya Mikoplasma. Pelatihan RT-PCR lebih ditekankan pada partisipan dari Jakarta (lab. Polio PBTDK) dan Surabaya ( Balai Besar Laboratorium Kesehatan), karena dari jaringan lab .Polio SEARO hanya dua laboratorium yang belum melakukan tes PCR tersebut. Pelatihan dilakukan intensif selama 5 hari terakhir dengan satu orang instruktur. Materi yang diberikan meliputi praktek melakukan ITD tes, VDPV tes, menjalankan tes dengan alat PCR AB (Applied Biosytem 7500) , analisis hasil, Kalibrasi alat, pengisian worksheet, eksport data ke power point dengan Microsoft 2003 untuk pengiriman hasil ke CDC. Dari pelatihan ini diharapkan kedua lab tersebut sudah siap menghadapi Proficiency Test (PT) Phanel pada bulan Juni 2014.

Pada hari terakhir pelatihan dilakukan pemberian sertifikat pada semua Partisipan dan standing party dengan melibatkan semua pegawai laboratorium yang ada.(S)

 

Orientation ForEpi Data Managers On Vaccine Preventable Disease (VPD) Surveillance With Focus On Enhanced Measles Surveillance

 

fotobangkit mei 2014

 

Untuk mendukung komitmenmenghilangkancampakdan kontrol rubella/ Congenital Rubella Syndrom (CRS) padatahun 2020, semuanegaradibawah WHO Kawasan Asia Tenggara (South East Asia Regional Office) melakukan pertemuan pada tanggal 29 April – 1 Mei 2014, bertempat di New Delhi India. Pertemuan ini bertujuan untuk Sosialisasi tentang management pengambilan data untuk cased based (Kasus Individu); Sosialisasi tentang Rekomendasi Indikator performance untuk Campak dan Rubella Surveillans dan juga Diskusi tentang Format dan Periode waktu pengiriman pelaporan Cased Based (Kasus Individu).

Pesertayang hadir adalah dari 11 negara yaitu : Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Indonesia, Maldive, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste. Dalam pertemuan ini juga hadir Perwakilan dari WHO-HQ Genewa dan Perwakilan dari CDC-Atlanta. Pertemuan dibuka oleh Dr. Sangay Thinley selaku Direktur Departemen penelitian dan Kesehatan Keluarga WHO-SEARO. Untuk selanjutnya acara dipandu oleh Narasumber dari WHO dan CDC Atlanta.Indonesia dalam pertemuan ini diwakilkan oleh Subangkit, M,Biomed (Litbangkes-PBTDK) dan Indra Jaya, SKM, M.Epid (P2PL-Subdit Surveillans). WHO Country Representatif Indonesia juga mengirimkan 2 wakilnya dalam pertemuan ini yaitu dr. Rusipah Mursito, M.Kes dan Haditya Mukri, M.Kes.

Dalam pertemuan disepakati bahwa Pengiriman Laporan untuk kasus campak/Rubella akan dilakukan secara Mingguan dengan format yang seragam serta rencana perluasan jejaring Laboratorium Campak yang tadinya hanya 4 laboratorium menjadi 6 atau lebih agar lebih efektif dan efisien. (S)

Kegiatan training ini dilakukan berdasarkan pada teori perkuliahan (lecture) dan praktikum (hands on) yang berkaitan dengan campak dan rubella.  Materi Perkuliahan yang diberikan adalah tentang update program global WHO kasus campak-rubella terhadap target dan goal eliminasi campak dan rubella tahun 2020 di 5 region WHO (AFRO, EURO, EMRO, SEARO dan WPRO), status sekarang dan peran laboratorium pendukung untuk eliminasi campak dan pengendalian rubella/CRS di region, pengantar untuk epidemiologi molekular virus campak-rubella dan metode molekular  (real time RT-PCR, genotyping RT-PCR dengan gel elektroforesis dan sequencing) untuk deteksi virus campak-rubella, quality control untuk tes molekular, database global (MeaNS dan RubeNS) untuk campak dan rubella, genotype campak dan rubella di wilayah SEAR, serta masalah dan tantangan laboratorium regional, dan country report masing-masing negara mengenai performa laboratorium selama periode 2011-2013.