Berita Terkini:
Training Pilot Project Economic Burden Influenza bagian dari Disease Burden Study, 18-20 Juli 2016   Badan Litbang Kesehatan sebagai anggota jejaring global untuk Influenza telah melaksanakan pemantauan berkala virus influenza di RS (Severe Acute Respiratory Infections - SARI) dan Puskesmas (Influenza Like Illness - ILI) sejak tahun 2006.  Pada tahun 2014 dilaksanakan kegiatan pengambilan data di RS sentinel SARI untuk mengetahui beban penyakit Influenza. Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaborasi dengan subdit ISPA Ditjen P2P. Dari 6 RS sentinel SARI hanya 3 RS yang datanya dapat diolah lebih lanjut yaitu RS Wonosari DIY, RS Kanujoso Djati Balikpapan dan RS Deli Serdang Medan. Tahun 2015 dilakukan analisis data dari 3 RS tersebut. Dari hasil analisis, diperlukan data beban ekonomi dari kasus influenza ini. Maka sesuai dengan roadmapnya, tahun 2016 dilanjutkan kegiatan economic burden pada kasus-kasus yang positif Influenza secara laboratorium di RS dan Puskesmas dari tiga kota tersebut. Pada tanggal 18-20 Juli 2016, dilaksanakan sosialisasi dan pelatihan pengisian kuesioner economic burden untuk tim RS dan Puskesmas di Yogyakarta. Tim pelatih adalah Dr. Ni Ketut Susilarini (PBTDK), Edy Haryanto, SKM, MKes (Subdit ISPA, P2P), Septiara Putri, SKM, MPH (FKM UI). Untuk materi refresher pengambilan spesimen disampaikan oleh Arie Ardiansyah, AmdAK (V) - Sunday, 07 August 2016 11:54
Diklat Teknis Penyelenggaraan SPIP, Jakarta 24-30 Juli 2016       Kegiatan Diklat Teknis Penyelenggaraan SPIP Angkatan I & II Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan bekerjasama dengan Pusdiklatwas BPKP diselenggarakan pada tanggal 24-30 Juli 2016 di Kampus BBPK Jakarta Hangjebat. Kegiatan dibuka oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Jakarta dan dari Kepala Pusdiklat BPKP( yang mewakili Kepala Bidang SDM dan Pelatihan BPKP ) memberikan kata sambutan . Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan  mengirimkan 3 orang stafnya (Max Bobby H., Frii Handayani dan Galoeh A.). Pelaksanaan Diklat Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah amanat PP 60 Tahun 2008 yang mengamanatkan bahwa pelaksanaan kebijakan/ program dilakukan secara integral antara kegiatan dan tindakan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan asset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan. Dengan penerapan pelaksanaan SPI pada setiap unit kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan, diharapkan dapat mendorong seluruh unit kerja/ satuan kerja untuk melaksanakan seluruh kebijakan/program yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan yang bermuara terhadap tercapainya sasaran dan tujuan organisasi. Disamping itu setiap satuan kerja diharapkan dapat melakukan identifikasi kemungkinan terjadinya deviasi atau penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan dengan membandingkan antara perencanaan dan pelaksanaan kegiatan tersebut, sebagai umpan balik untuk melaksanakan tindakan koreksi atau perbaikan bagi pimpinan dalam mencapai tujuan organisasi. Dengan diberlakukannya PP 60 tahun 2008 ini , pimpinan instansi atau unit kerja akan bertanggungjawab penuh terhadap pelaksanaan kebijakan/program yang diurai dalam beberapa kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang dimulai sejak dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan dan pelaporan/pertanggungjawaban keuangan yang akuntabel. Penerapan SPI dalam unit kerja dilaksanakan melalui penegakan integritas dan nilai etika, komitmen kepada kompetensi, kepemimpinan yang kondusif, pembentukan struktur organisasi sesuai dengan kebutuhan, pendelegasian wewenang dan sehat tentang pembinaan sumber daya manusia, perwujudan peran pengawasan intern pemerintah yang efektif serta hubungan kerja yang baik dengan instansi pemerintah terkait. Dalam upaya mendorong penerapan SPIP di Iingkungan Kementerian Kesehatan khususnya di Badan Litbang Kesehatan, maka Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dan Puslitbang Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan menugaskan pegawai nya untuk mengikuti Diklat Teknis Penyelenggaraan SPIP dari tanggal 24 s/d 30 Juli 2016 yang diselenggarakan di kampus Balai Besar Pelatihan Kesehatan Jakarta di Hang Jebat Kebayoran Baru Jakarta Selatan (B) - Monday, 01 August 2016 15:30
Enhancing Regional Partnership Towards Strengthening Laboratory System in Accelerating GHSA's Implementation berlangsung di Hotel Berkeley Hotel, Bangkok, Thailand pada tanggal 27-29 July 2016     Pertemuan Regional Workshop yang mempunyai tema Enhancing Regional Partnership Towards Strengthening Laboratory System in Accelerating GHSA's Implementation berlangsung di Hotel Berkeley Hotel, Bangkok, Thailand pada tanggal 27-29 July 2016. Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala Badan Litbang Kesehatan (dr. Siswanto, MPH),  Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (Pretty Multihartina, PhD)  dan  dr. Masri Sembiring Maha Dalam pertemuan ini Kepala Badan Litbangkes hadir untuk  Menteri Kesehatan.  Kepala Badan berkesempatan untuk menjadi salah satu pembicara panelist dengan materi : "its application as a GHSA tool for planning and monitoring". Hasil dari pertemuan ini merekomendasian beberapa hal yakni : •GHSA is enable platform to leverage and maximize the existing efforts from countries and partners •Communication between Public Health & Animal Health is key • Coordination for partnership • Avoiding duplication and parallel efforts – not reinvented the wheel     - Monday, 01 August 2016 09:19
Pelatihan Penyegaran Petugas Surveilans Influenza Like Illness (ILI) Tahun 2016, Mei-Juni 2016     Surveilans Influenza Like Illness (ILI) dimuali sejak tahun 2006 dilaksanakan di tujuh provinsi, hingga akhir tahun 2015 Surveilans ILI telah dilaksanakan di 26 sentinel di 25 provinsi, pada tahun 2016 dikembangkan satu sentinel baru di Provinsi Banten yang menjadi sentinel ILI ke 27 di 26 provinsi seluruh Indonesia.Tujuan dari kegiatan surveilans ILI yaitu untuk memantau sirkulasi virus influenza dan mengetahui besaran masalah influenza di Indonesia dengan memprediksi prevalensi influenza di masyarakat berdasarkan konfirmasi hasil pemeriksaan laboratorium.     Untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja program surveilans ILI yang selama ini sudah berjalan baik maka dilaksanakan kegiatan pelatihan penyegaran petugas surveilans ILI, selain itu kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk melatih pengambilan spesimen yang baik dan benar untuk menunjang penelitian “pengembangan metode deteksi dan identifikasi molekuler menunjang pemantauan berkala penyakit infeksi saluran pernafasan dan pneumonia”. Kegiatan Pelatihan Penyegaran Petugas Surveilans ILIini merupakan kerjasama antara Subdit ISPA Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes dan WHO Indonesia. Kegiatan ini terbagi pada tiga lokasi yaitu Medan (17-20 Mei 2016), Surabaya (24-27 Mei 2016) dan Yogyakarta (1-4 Juni 2016) Peserta pelatihan merupakan petugas surveilans ILI di Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten dari 27 sentinel ILI di 26 provinsi serta perwakilan dari laboratorium regional       Dalam kegiatan pelatihan ini peserta melakukan simulasi pelaksanaan surveilans ILI mulai dari penemuan kasus ILI di Puskesmas, wawancara pasien, tatalaksana spesimen ILI (pengambilan, pengepakan dan pengiriman), pengisian data agregat mingguan dan membuat laporan logistik bulanan. Selain itu kegiatan ini sebagai sarana diskusi terakit kendala/hambatan yang dihadapi dalam surveilans ILI, pada akhir kegiatan peserta diberikan post test untuk membuat gambaran sejauh mana peserta memahami materi yang telah disampaikan. - Monday, 25 July 2016 12:10
International Training Workshop on Laboratory Diagnosis for Zika, Taiwan, 13-15 April 2016 International Training Workshop on Laboratory Diagnosis for Zika, Taiwan, 13-15 April 2016     Pelatihan Internasional tentang Laboratorium Diagnosis untuk Zika diselenggarakan oleh Pusat Taiwan Pengendalian Penyakit (CDC Taiwan). Pelaksanaan pelatihan di National Taiwan University College of Public Health dan Taiwan CDC Headquarter di Kota Taipei pada tanggal 13-15 April 2016. Indonesia mengirimkan 2 orang untuk menghadiri pertemuan ini, yaitu Dr. dr. Vivi Setiawaty, MBiomed (penanggungjawab laboratorium Virologi Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan) dan Dr. dr. Reni Herman, MBiomed (peneliti arbovirus di Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan).   Pada pelatihan ini, hadir 4 pembicara dari Amerika Serikatdan Jepangserta 26 peserta dari 12 negara-negara berisiko penularan Zika di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara yaitu  Australia,Bangladesh, Fiji, Indonesia, Japan, Malaysia, Myanmar, Papua New Guinea, the Philippines, Singapore, Thailand, and Vietnam. Pelatihan ini mencakup epidemiologi Zika virus dan pelatihan praktik di laboratorium. Tujuan daripelatihanini adalah untuk memperkuat kapasitas negarauntuk mendeteksi, menilai, melaporkan, memberitahukan, verifikasi dan meresponancaman dan tantangan yang ditimbulkanoleh virus Zika.   Pembicara dan pelatih pada pelatihan ini adalah Dr. Shieh Wun-judan Dr. Julu Bhatnagar dariUS-CDCdan Dr. Shigeru Tajima dari Japan National Institute of Infectious Diseases (NIID).Dr. Shieh dari US CDC adalahpakarpertama yang dilakukan diagnosis patologikasusmikrosefali di Brazil dan Dr. Tajima dariJepang NIID adalahahlipertama di Jepang yang memiliki virus Zikahasil isolasi.Dr. Julu Bhatanagar menjelaskan tentang ekstraksi RNA dari spesimen klinis dan penanganan spesimen, RT-PCR dan Sequencing untuk diagnosis Zika virus serta analisis data. Peserta pelatihan mendapat kesempatan untuk mengunjungi Medical Diagnostic Laboratory, National Taiwan University Hospital dan Taiwan Epidemic Intelligence Center. (VS) - Monday, 25 July 2016 09:12
Pertemuan ‘Advancing Global Health Security, from Commitments to Actions’, Bali, 27-29 Juni 2016   Pertemuan Advancing Global Health Security, from Commitments to Actions merupakan pertemuan High Levelyang dihadiri oleh perwakilan 52 negara di seluruh dunia. Pertemuan yang diadakan oleh World Health Organization (WHO) dibuka oleh Ibu Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila F. Moeloek, SpM(K). Hadir pada pertemuan ini adalah Bapak Kepala Badan Litbang Kesehatan Dr. Siswanto, MHP, DTM, Ibu Kapuslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Pretty Multihartina, PhD, Kasubbid Instrumen dan Produk Diagnostik Puslitbang BTDK Indri Rooslamiati, MSc, Apt dan Penanggungjawab Laboratorium Virologi Puslitbang BTDK Dr. dr. Vivi Setiawaty, MBiomed. Perwakilan Indonesia yang mengahdiri pertemuan ini tidak hanya dari Kementerian Kesehatan, tapi juga dihadiri Kementerian Pertahanan, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.   Pertemuan yang dilaksanakan selama 3 hari diawali dengan diskusi dari perwakilan negara-negara yang berbagi keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam melakukan keamanan kesehatan di negaranya. Selanjutnya diskusi dibagi dalam beberapa sesi yaitu Bagaimana mengimlementasikan kesiapsiagaan untuk kegawatdaruratan kesehatan (Operationalising for health emergencies), Perencanaan Nasional berdasarkan Hasil Assesmen, Implementasi perencanaan Kesiapsiagaan Nasional, Pendanaan yang berkelanjutan untuk Perencanaan dan Implementasi Kesiapsiagaan Negara.Pada hari kedua terdapat pembagian kelompok diskusi dengan studi kasus dengan melihat kesiapsiagaan dari 4 pendekatan yaitu perencanaan nasional, biosecurity, mobile resources serta monitoring dan evaluasi.    Melalui diskusi, kita dapat menyoroti beberapa poin penting dalam mencapai dan meningkatkan keamanan kesehatan nasional, regional, dan global. Multi - sektor dan multi - koordinasi aktor yang melibatkan kesehatan, hewan, dan sektor lingkungan melalui pendekatan One Health harus menjadi area fokus dalam program nasional, regional, dan global. Selain itu, keterlibatan masyarakat adalah usaha penting dalam memberikan kontribusi. Komitmen politik yang kuat dan kepemimpinan sangat penting untuk memastikan upaya mencapai jaminan kesehatan yang dilaksanakan secara efektif dan efisien. Aspek penting lainnya adalah investasi internasional dan domestik yang berkelanjutan dalam memberikan kontribusi untuk keselamatan dan keamanan dunia dari ancaman kesehatan masyarakat       - Thursday, 21 July 2016 12:16
Pelatihan SNI ISO 15189:2012       Salah satu komponen mendukung IHR (International Health Regulation) adalah Laboratorium. Peran laboratorium menjadi sangat penting dikarenkan hasil laboratorium tidak hanya digunakan untuk pendukung klinis saja, melainkan sudah menjadi diagnosis konfirmatif dari suatu penyakit terutama penyakit yang berpotensi wabah. Dikarenakan hal yang sangat penting ini lah maka kualitas laboratorium harus selalu dijaga dengan mengikuti akreditasi. Akreditasi laboratorium merupakan pengakuan formal terhadap suatu laboratorium untuk melakukan kegiatan pengujian terutama yang berbahan dasar medis (manusia). Akreditasi dilakukan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang mengacu ke SNI 15189:2012 dimana memuat klausal mengenai persyaratan manajemendan persyaratan teknis.Untuk mendapatkan akreditasi, kedua persyaratan tersebut harus benar-benar disusun, direkam, disosialisasikan, dimengerti serta dilaksanakan dalam kegiatan sehari – hari laboratorium. Sebagai persiapan akreditasi dan standarisasi Laboratoriumnya, Puslitbang Biomedis dan Tekdakes (PBTDK) mengikuti kegiatan pelatihan pemahaman SNI ISO 15189:2012 yang dilaksanakan pada tanggal 10-11 Mei 2016 bertempat di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Puslitbang Biomedis danTekdakes mengirimkan 8 orang yang terdiridari Koordinator Laboratorium PBTDK;  Penanggung Jawab Lab Virologi beserta 5 orang staffnya serta 1 orang dari divisi Biorisiko. Adapun agenda yang dilatihkan adalah Sistem Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian; Sistem akreditasi laboratorium medik; Persyaratan Manajemen SNI ISO 15189:2012 dan juga Persyaratan teknis SNI ISO 15189:2012.  - Thursday, 21 July 2016 06:21
ASEAN-GPP Workshop on Strengthening Laboratory Capacity Through UNITEDengue     Ministry of Health Lao PDR sebagai tuan rumah bekerjasama dengan Enviromental Health Institute (EHI) of Singapore dan Disease Control Division of Malaysia mengadakan Workshop on Strengthening Laboratory Capacity Through UNITEDengue pada tanggal 29 – 31 Maret 2016 di Settha Palace, Vientiane, Lao PDR. Tujuan dari program workshop tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta pada area biosafety, teknik molekuler karakterisasi virus dengue, bioinformatik dan molekuler epidemiologi. Juga untuk mengenalkan paserta pada web-based dengue data sharing platform. Workshop dibuka oleh Dr. Bounlay Phommasack sebagai Director General of Disease Control Division of Lao PDR. Workshop ini diikuti oleh 10 negara ASEAN. Peserta dari Indonesia diwakili oleh Hartanti Dian Ikawati, S.Si, Eka Pratiwi, M.Biomed dan Arie A. Nugraha. UNITEDengue (United In Tacking Epidemic Dengue) adalah jejaring lintas batas untuk berbagi informasi surveilans dengue dan pengetahuan pengendalian virus dengue. Saat ini anggota dari UNITEDengue dari AMS (Asean Member State) adalah MOH Malaysia, EHI Singapura, MOH Brunei, MOH Vietnam, MOH Pilipina, MOH Laos dan MOH Thailand (bergabung februari 2016), sementara Indonesia, Myanmar dan Kamboja belum bergabung. - Tuesday, 10 May 2016 13:48
WHO Workshop on Biosafety in Public Helath Laboratories Bangkok 29 Feb – 4 Maret 2016     Biosafety dan Biosecurity merupakan aspek penting yang tidak terlepas dari laboratorium. Keduanya merupakan tandem yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu pada tanggal  29 Feb – 4 Maret 2016 bertempat di NIH Bangkok-Thailand, WHO menyelenggarakan pelatihan untuk tenaga pelatih (training of trainer = ToT) mengenai Biosafety di Laboratorium.   Peserta yang hadir terdiri dari 10 negara termasuk Indonesia. Delegasi Indonesia diwakili oleh 2 instansi yaitu Badan Litbangkes dan BBLK Palembang. Adapun peserta perwakilan Badan litbangkes adalah dr. Ni Ketut Susilarini, MS dan Subangkit, M.Biomed (Pusat Biomedis dan Tekdakes). Pelatihan ini bertujuan untuk berbagi informasi dan praktek laboratorium yang baik diantara peserta dari berbagai negara serta melatih para praktisi laboratorium dalam hal proteksi dan keamanan penggunaanya serta memastikan laboratorium sesuai dengan standar yang ada. Adapun konsep yang diterapkan dalam pelatihan ini adalah International Best Practise dengan mengedepankan praktikum; diskusi dan sharing pengalaman masing-masing negara   - Tuesday, 10 May 2016 13:48
Pelatihan Penggunaan Hewan Percobaan dalam Penelitian Biomedis, Bogor 28 -29 Maret 2016   Hewan coba merupakan salah satu aspek penting dalam penelitian di Bidang Biomedis. Beberapa alasan digunakannya Hewan coba tetap diperlukan dalam penelitian khususnya di bidang kesehatan, pangan dan gizi antara lain: (1) keragaman dari subjek penelitian dapat diminimalisasi, (2) variabel penelitian lebih mudah dikontrol, (3) daur hidup relatif pendek sehingga dapat dilakukan penelitian yang bersifat multigenerasi, (4) pemilihan jenis hewan dapat disesuaikan dengan kepekaan hewan terhadap materi penelitian yang dilakukan, (5) biaya relatif murah, (6) dapat dilakukan pada penelitian yang berisiko tinggi, (7) mendapatkan informasi lebih mendalam dari penelitian yang dilakukan karena kita dapat membuat sediaan biologi dari organ hewan yang digunakan, (8) memperoleh data maksimum untuk keperluan penelitian simulasi, dan (9) dapat digunakan untuk uji keamanan, diagnostik dan toksisitas. Peneliti yang akan memanfaatkan hewan percobaan pada penelitian kesehatan harus mengkaji kelayakan dan alasan pemanfaatan hewan dengan mempertimbangkan penderitaan yang akan dialami oleh hewan percobaan dan manfaat yang akan diperoleh untuk manusia. Penelitian yang memanfaatkan hewan coba juga harus menggunakan hewan percobaan yang sehat dan berkualitas sesuai dengan materi penelitian. Hewan tersebut dikembangbiakkan dan dipelihara secara khusus dalam lingkungan yang diawasi dan dikontrol dengan ketat. Tujuannya adalah untuk mendapatkan defined laboratory animals sehingga sifat genotipe, fenotipe (efek maternal), dan sifat dramatipe (efek lingkungan terhadap fenotipe) menjadi konstan. Untuk itu pada tanggal 28-29 Maret 2016 bertempat di Bogor, Drh. Putri Reno Intan (Intan). Perwakilan dari Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (mengikuti pelatihan penggunaan Hewan Coba dalam Penelitian Biomedis. Adapun Narasumber dari pertemuan ini adalah dari Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) LPPM–IPB. Adapun materi yang diajarkan adalah meliputi Ethics, Legislasi & IACUC overview; Biosafety and Occupational Health and Safety; Prinsip 3R; Manajemen fasilitas hewan coba; Perilaku, biologi dan fisiologihewan coba; Manajemen penyakit hewan laboratorium; Handling and restraint; Anesthesics, analgesics, euthanasia, surgery. Sedangkan untuk sesi praktikum diajarkan Handling and Restraint, Sample Collection, Drug administration. - Tuesday, 10 May 2016 13:48
Konferensi Global Health Security Agenda (GHSA) Jenewa, 23 Januari 2016   Melalui kemitraan dari hampir 50 negara, organisasi internasional, dan para pemangku kepentingan nonpemerintah, Global Health Security Agenda (GHSA) memfasilitasi kolaborasi, upaya peningkatan kapasitas untuk mencapai target spesifik dan terukur terhadap ancaman biologis, untuk mempercepat pencapaian kapasitas inti yang diperlukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Peraturan Kesehatan Internasional atau lebih dikenal dengan Internasional Health Regulation (IHR) dan Organisasi Dunia Kesehatan Hewan (OIE) melalui alur kinerja Veterinary Services, serta kerangka kerja keamanan kesehatan global terkait lainnya. Kemitraan dari beragai organisasi ini dipimpin dan didukung oleh kelompok pengarah (steering group) GHSA yang terdiri dari 10 negara anggota termasuk Indonesia. Ketua Pengarah dari GHSA ini berasal dari negara yang berbeda setiap tahun.       Pada tahun 2016, Indonesia resmi memimpin keketuaan Steering Group serta Ketua Troika kelompok negaranegara GHSA. Ketetapan ini dilakukan pada pertemuan Steering Group of the Global Health Security Agenda (GHSA) yang berlangsung tanggal 23 Januari 2016 di Kantor World Health Organization (WHO), Jenewa, Swiss. Ibu menteri Kesehatan memimpin delegasi RI (delri) dan salah satu anggota delri adalah Ibu Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Pretty Multihartina, PhD. Dalam sambutannya, Ibu Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa melalui kerjasama dalam GHSA akan membantu negara-negara anggota dalam meningkatkan kapasitas nasional.Keanggotaan negara-negara dalam GHSA bersifat sukarela. Kegiatan-kegiatan dalam GHSA adalah untuk meningkatkan kapasitas untuk mencegah, mendeteksi dan melakukan respon terhadap ancaman pandemi. Seluruh aktifitas yang dilaksanakan oleh negara anggota GHSA untuk meningkatkan kapasitas nasional dalam implementasi WHO – IHR (2005). (VS.) - Monday, 21 March 2016 06:33
Kunjungan Kepala Badan Litbang Kesehatan, Jakarta 26 February 2016     Kepala Badan Litbang Kesehatan dr. Siswanto, berkesempatan berkunjung di Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi (PPI) “Prof. Oemijati” dalam kunjungan tersebut Kepala Badan melihat lihat fasilitas yang ada di Laboratorium PPI (termasuk ruangan BSL 3) yang terletak dilantai dasar.   Pada kunjungan ini Kepala Badan juga banyak mendapatkan penjelasan mengenai kegiatan yang berlangsung di laboratorium PPI diantaranya mengenai konsorsium riset vaksin dengue yang dilaksanakan bekerjasama dengan universitas dan lembagalembaga lain. Selain itu Kepala Badan juga mengunjungi beberapa laboratorium lain termasuk laboratorium sel punca. (MB)     - Monday, 21 March 2016 06:30
Diskusi Ilmiah : Virus Dengue dan Zika, Jakarta 19 February 2016     Akhir-akhir ini dunia diramaikan dengan pemberitaan mengenai adanya perkembangan virus yang cukup merepotkan dunia kesehatan, Zika. Virus ini menginfeksi melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, beberapa gejala yang terlihat apabila manusia sudah terinfeksi virus ini adalah demam, nyeri sendi, konjungtivitis (mata merah) dan ruam. Pertama kali ditemukan di hutan Zika, Uganda pada tahun 1947 yang terdapat pada seekor moyet. Kemudian mulai menjadi endemis dan menyebar keluar Afrika dan Asia pada tahun 2007. Tahun 2015 virus ini menyebar ke Brazil dan di Indonesia sendiri ditemukan di Jambi pada tahun 2015.       Untuk memberikan pemahaman secara ilmiah mengenai virus yang ditularkan melalui vektor nyamuk ini Puslitbang Biomedis dan TDK menyelenggarakan pertemuan diskusi ilmiah pada tanggal 19 pebruari 2016 di Gedung Theater Badan Litbangkes. Tiga materi yang diangkat adalah mengenai penelitian virus zika yang disampaikan oleh Prof. dr. Herawati S., PhD dari Lembaga Eikjman dilanjutkan oleh Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama dengan membawakan paparan mengenai Perkembangan Penelitian dan Kasus Virus Zika dan paparan mengenai Perkembangan Penelitian Konsorsium Vaksin Dengue oleh Dr. dr Whinie Lestari, M.Kes. (Koordinator Riset Vaksin Dengue). (MB)     - Monday, 21 March 2016 05:22
Workhsop on Biosafety/Biosecurity in Public Health Laboratories in the South East Asia Region, Bangkok 29 February - 4 maret 2016     Biosafety dan Biosecurity merupakan aspek penting yang tidak terlepas dari laboratorium. Keduanya merupakan tandem yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu pada tanggal 29 Feb – 4 Maret 2016 bertempat di NIH Bangkok - Thailand , WHO menyelenggarakan pelatihan untuk tenaga pelatih (training of Trainer = ToT) mengenai Biosafety di Laboratorium. Peserta yang hadir terdiri dari 10 negara termasuk Indonesia. Delegasi Indonesia diwakili oleh 2 instansi yaitu Badan Litbangkes dan BBLK Palembang. Adapun peserta perwakilan Badan litbangkes adalah dr. Ni Ketut Susilarini, MS dan Subangkit,M.Biomed.     Pelatihan ini bertujuan untuk berbagi informasi dan praktek laboratorium yang baik diantara peserta dari berbagai negara serta melatih para praktisi laboratorium dalam hal proteksi dan keamanan penggunaanya serta memastikan laboratorium sesuai dengan standar yang ada. Adapun konsep yang diterapkan dalam pelatihan ini adalah International Best Practise dengan mengedepankan praktikum; diskusi dan sharing pengalaman masing-masing negara menenai Biosafety di Laboratorium.     - Monday, 21 March 2016 05:09

Unduh Newsletter

2015

Edisi Desember 2015

2016

Edisi Januari 2016

Edisi Februari 2016

Edisi Maret 2016

Edisi April 2016

 

 

 

WHO –SEAR Inter Country Training for Polio Laboratory Supervisors,

Mumbai 7-16 April 2014

foto sinta mei 2014 2 

 

           Pertemuan ini dihadiri oleh 14 Partisipan yang berasal dari 6 Negara (India, Bangladesh, Indonesia , Thailand, Myanmar dan Srilanka). Sedangkan Narasumber /fasilitator berasal dari India (Dr Jagadish Deshpande (Director and Scientis Enterovirus Research Centre, Mumbai), Mr Prasanna yergolkar (Virologist WHO/SEARO New Delhi), Dr Lucky Sangal (Laboraty focal person New Delhi), dan Thailand (Ms Sirima Pattamadilok, TIP-Scientist WHO-SEARO New Delhi ). Pembukaan acara pada pertemuan ini diawali dengan menyalakan lilin yang melambangkan sebagai penerang dalam kegelapan, tanda adanya kebersamaan, dan berbagi pengetahuan/pengalaman. Acara ini merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan sebelum pelatihan dilakukan. Adapun Jadwal pelatihan dimulai jam 09.00 pagi sampai 18.00 sore.

Dari Indonesia di wakili oleh Institusi yang berasal dari Bio Farma, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya, Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan. Semua yang hadir ini adalah bagian dari jaringan Laboratorium Polio di Wilayah SEARO.

Tujuan dari Workshop :Mengutamakan pentingnya akurasi, ketepatan waktu dan kelengkapan hasil, Review praktek kerja laboratorium di dalam jaringan laboratorium Polio, Meningkatkan kinerja Laboratorium, Refresh dan Update ketrampilan dari seorang supervisor dalam meningkatkan kinerja lab., Menetapkan implementasi program total quality assurance dan Bio- Risk managemen dalam jaringan laboratorium Polio.

Dalam pertemuan ini juga dibahas beberapa kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan laboratorium polio, antara lain: Praktek Laboratorium tentang Cell subculture, Mycoplasma testing, preparasi Cell bank, kandungan media, Biosafety Laboratory , Cell Sensitivity, ketrampilan mikroskopis dalam observasi CPE (Cyto Phatic Effect ), tes rRT PCR, pemeliharaan alat lab dan kalibrasi, Internal Quality Control, Check list Accrediation, dan preparasi FTA card dan pengiriman specimen/isolat dan cell untuk pemeriksaan adanya Mikoplasma. Pelatihan RT-PCR lebih ditekankan pada partisipan dari Jakarta (lab. Polio PBTDK) dan Surabaya ( Balai Besar Laboratorium Kesehatan), karena dari jaringan lab .Polio SEARO hanya dua laboratorium yang belum melakukan tes PCR tersebut. Pelatihan dilakukan intensif selama 5 hari terakhir dengan satu orang instruktur. Materi yang diberikan meliputi praktek melakukan ITD tes, VDPV tes, menjalankan tes dengan alat PCR AB (Applied Biosytem 7500) , analisis hasil, Kalibrasi alat, pengisian worksheet, eksport data ke power point dengan Microsoft 2003 untuk pengiriman hasil ke CDC. Dari pelatihan ini diharapkan kedua lab tersebut sudah siap menghadapi Proficiency Test (PT) Phanel pada bulan Juni 2014.

Pada hari terakhir pelatihan dilakukan pemberian sertifikat pada semua Partisipan dan standing party dengan melibatkan semua pegawai laboratorium yang ada.(S)

 

Orientation ForEpi Data Managers On Vaccine Preventable Disease (VPD) Surveillance With Focus On Enhanced Measles Surveillance

 

fotobangkit mei 2014

 

Untuk mendukung komitmenmenghilangkancampakdan kontrol rubella/ Congenital Rubella Syndrom (CRS) padatahun 2020, semuanegaradibawah WHO Kawasan Asia Tenggara (South East Asia Regional Office) melakukan pertemuan pada tanggal 29 April – 1 Mei 2014, bertempat di New Delhi India. Pertemuan ini bertujuan untuk Sosialisasi tentang management pengambilan data untuk cased based (Kasus Individu); Sosialisasi tentang Rekomendasi Indikator performance untuk Campak dan Rubella Surveillans dan juga Diskusi tentang Format dan Periode waktu pengiriman pelaporan Cased Based (Kasus Individu).

Pesertayang hadir adalah dari 11 negara yaitu : Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Indonesia, Maldive, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste. Dalam pertemuan ini juga hadir Perwakilan dari WHO-HQ Genewa dan Perwakilan dari CDC-Atlanta. Pertemuan dibuka oleh Dr. Sangay Thinley selaku Direktur Departemen penelitian dan Kesehatan Keluarga WHO-SEARO. Untuk selanjutnya acara dipandu oleh Narasumber dari WHO dan CDC Atlanta.Indonesia dalam pertemuan ini diwakilkan oleh Subangkit, M,Biomed (Litbangkes-PBTDK) dan Indra Jaya, SKM, M.Epid (P2PL-Subdit Surveillans). WHO Country Representatif Indonesia juga mengirimkan 2 wakilnya dalam pertemuan ini yaitu dr. Rusipah Mursito, M.Kes dan Haditya Mukri, M.Kes.

Dalam pertemuan disepakati bahwa Pengiriman Laporan untuk kasus campak/Rubella akan dilakukan secara Mingguan dengan format yang seragam serta rencana perluasan jejaring Laboratorium Campak yang tadinya hanya 4 laboratorium menjadi 6 atau lebih agar lebih efektif dan efisien. (S)

Kegiatan training ini dilakukan berdasarkan pada teori perkuliahan (lecture) dan praktikum (hands on) yang berkaitan dengan campak dan rubella.  Materi Perkuliahan yang diberikan adalah tentang update program global WHO kasus campak-rubella terhadap target dan goal eliminasi campak dan rubella tahun 2020 di 5 region WHO (AFRO, EURO, EMRO, SEARO dan WPRO), status sekarang dan peran laboratorium pendukung untuk eliminasi campak dan pengendalian rubella/CRS di region, pengantar untuk epidemiologi molekular virus campak-rubella dan metode molekular  (real time RT-PCR, genotyping RT-PCR dengan gel elektroforesis dan sequencing) untuk deteksi virus campak-rubella, quality control untuk tes molekular, database global (MeaNS dan RubeNS) untuk campak dan rubella, genotype campak dan rubella di wilayah SEAR, serta masalah dan tantangan laboratorium regional, dan country report masing-masing negara mengenai performa laboratorium selama periode 2011-2013.