Berita Terkini:
Pelatihan Penyegaran Petugas Surveilans Influenza Like Illness (ILI) Tahun 2016, Mei-Juni 2016     Surveilans Influenza Like Illness (ILI) dimuali sejak tahun 2006 dilaksanakan di tujuh provinsi, hingga akhir tahun 2015 Surveilans ILI telah dilaksanakan di 26 sentinel di 25 provinsi, pada tahun 2016 dikembangkan satu sentinel baru di Provinsi Banten yang menjadi sentinel ILI ke 27 di 26 provinsi seluruh Indonesia.Tujuan dari kegiatan surveilans ILI yaitu untuk memantau sirkulasi virus influenza dan mengetahui besaran masalah influenza di Indonesia dengan memprediksi prevalensi influenza di masyarakat berdasarkan konfirmasi hasil pemeriksaan laboratorium.     Untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja program surveilans ILI yang selama ini sudah berjalan baik maka dilaksanakan kegiatan pelatihan penyegaran petugas surveilans ILI, selain itu kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk melatih pengambilan spesimen yang baik dan benar untuk menunjang penelitian “pengembangan metode deteksi dan identifikasi molekuler menunjang pemantauan berkala penyakit infeksi saluran pernafasan dan pneumonia”. Kegiatan Pelatihan Penyegaran Petugas Surveilans ILIini merupakan kerjasama antara Subdit ISPA Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes dan WHO Indonesia. Kegiatan ini terbagi pada tiga lokasi yaitu Medan (17-20 Mei 2016), Surabaya (24-27 Mei 2016) dan Yogyakarta (1-4 Juni 2016) Peserta pelatihan merupakan petugas surveilans ILI di Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten dari 27 sentinel ILI di 26 provinsi serta perwakilan dari laboratorium regional       Dalam kegiatan pelatihan ini peserta melakukan simulasi pelaksanaan surveilans ILI mulai dari penemuan kasus ILI di Puskesmas, wawancara pasien, tatalaksana spesimen ILI (pengambilan, pengepakan dan pengiriman), pengisian data agregat mingguan dan membuat laporan logistik bulanan. Selain itu kegiatan ini sebagai sarana diskusi terakit kendala/hambatan yang dihadapi dalam surveilans ILI, pada akhir kegiatan peserta diberikan post test untuk membuat gambaran sejauh mana peserta memahami materi yang telah disampaikan. - Monday, 25 July 2016 12:10
International Training Workshop on Laboratory Diagnosis for Zika, Taiwan, 13-15 April 2016 International Training Workshop on Laboratory Diagnosis for Zika, Taiwan, 13-15 April 2016     Pelatihan Internasional tentang Laboratorium Diagnosis untuk Zika diselenggarakan oleh Pusat Taiwan Pengendalian Penyakit (CDC Taiwan). Pelaksanaan pelatihan di National Taiwan University College of Public Health dan Taiwan CDC Headquarter di Kota Taipei pada tanggal 13-15 April 2016. Indonesia mengirimkan 2 orang untuk menghadiri pertemuan ini, yaitu Dr. dr. Vivi Setiawaty, MBiomed (penanggungjawab laboratorium Virologi Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan) dan Dr. dr. Reni Herman, MBiomed (peneliti arbovirus di Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan).   Pada pelatihan ini, hadir 4 pembicara dari Amerika Serikatdan Jepangserta 26 peserta dari 12 negara-negara berisiko penularan Zika di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara yaitu  Australia,Bangladesh, Fiji, Indonesia, Japan, Malaysia, Myanmar, Papua New Guinea, the Philippines, Singapore, Thailand, and Vietnam. Pelatihan ini mencakup epidemiologi Zika virus dan pelatihan praktik di laboratorium. Tujuan daripelatihanini adalah untuk memperkuat kapasitas negarauntuk mendeteksi, menilai, melaporkan, memberitahukan, verifikasi dan meresponancaman dan tantangan yang ditimbulkanoleh virus Zika.   Pembicara dan pelatih pada pelatihan ini adalah Dr. Shieh Wun-judan Dr. Julu Bhatnagar dariUS-CDCdan Dr. Shigeru Tajima dari Japan National Institute of Infectious Diseases (NIID).Dr. Shieh dari US CDC adalahpakarpertama yang dilakukan diagnosis patologikasusmikrosefali di Brazil dan Dr. Tajima dariJepang NIID adalahahlipertama di Jepang yang memiliki virus Zikahasil isolasi.Dr. Julu Bhatanagar menjelaskan tentang ekstraksi RNA dari spesimen klinis dan penanganan spesimen, RT-PCR dan Sequencing untuk diagnosis Zika virus serta analisis data. Peserta pelatihan mendapat kesempatan untuk mengunjungi Medical Diagnostic Laboratory, National Taiwan University Hospital dan Taiwan Epidemic Intelligence Center. (VS) - Monday, 25 July 2016 09:12
Pertemuan ‘Advancing Global Health Security, from Commitments to Actions’, Bali, 27-29 Juni 2016   Pertemuan Advancing Global Health Security, from Commitments to Actions merupakan pertemuan High Levelyang dihadiri oleh perwakilan 52 negara di seluruh dunia. Pertemuan yang diadakan oleh World Health Organization (WHO) dibuka oleh Ibu Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila F. Moeloek, SpM(K). Hadir pada pertemuan ini adalah Bapak Kepala Badan Litbang Kesehatan Dr. Siswanto, MHP, DTM, Ibu Kapuslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Pretty Multihartina, PhD, Kasubbid Instrumen dan Produk Diagnostik Puslitbang BTDK Indri Rooslamiati, MSc, Apt dan Penanggungjawab Laboratorium Virologi Puslitbang BTDK Dr. dr. Vivi Setiawaty, MBiomed. Perwakilan Indonesia yang mengahdiri pertemuan ini tidak hanya dari Kementerian Kesehatan, tapi juga dihadiri Kementerian Pertahanan, Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.   Pertemuan yang dilaksanakan selama 3 hari diawali dengan diskusi dari perwakilan negara-negara yang berbagi keberhasilan dan tantangan yang dihadapi dalam melakukan keamanan kesehatan di negaranya. Selanjutnya diskusi dibagi dalam beberapa sesi yaitu Bagaimana mengimlementasikan kesiapsiagaan untuk kegawatdaruratan kesehatan (Operationalising for health emergencies), Perencanaan Nasional berdasarkan Hasil Assesmen, Implementasi perencanaan Kesiapsiagaan Nasional, Pendanaan yang berkelanjutan untuk Perencanaan dan Implementasi Kesiapsiagaan Negara.Pada hari kedua terdapat pembagian kelompok diskusi dengan studi kasus dengan melihat kesiapsiagaan dari 4 pendekatan yaitu perencanaan nasional, biosecurity, mobile resources serta monitoring dan evaluasi.    Melalui diskusi, kita dapat menyoroti beberapa poin penting dalam mencapai dan meningkatkan keamanan kesehatan nasional, regional, dan global. Multi - sektor dan multi - koordinasi aktor yang melibatkan kesehatan, hewan, dan sektor lingkungan melalui pendekatan One Health harus menjadi area fokus dalam program nasional, regional, dan global. Selain itu, keterlibatan masyarakat adalah usaha penting dalam memberikan kontribusi. Komitmen politik yang kuat dan kepemimpinan sangat penting untuk memastikan upaya mencapai jaminan kesehatan yang dilaksanakan secara efektif dan efisien. Aspek penting lainnya adalah investasi internasional dan domestik yang berkelanjutan dalam memberikan kontribusi untuk keselamatan dan keamanan dunia dari ancaman kesehatan masyarakat       - Thursday, 21 July 2016 12:16
Pelatihan SNI ISO 15189:2012       Salah satu komponen mendukung IHR (International Health Regulation) adalah Laboratorium. Peran laboratorium menjadi sangat penting dikarenkan hasil laboratorium tidak hanya digunakan untuk pendukung klinis saja, melainkan sudah menjadi diagnosis konfirmatif dari suatu penyakit terutama penyakit yang berpotensi wabah. Dikarenakan hal yang sangat penting ini lah maka kualitas laboratorium harus selalu dijaga dengan mengikuti akreditasi. Akreditasi laboratorium merupakan pengakuan formal terhadap suatu laboratorium untuk melakukan kegiatan pengujian terutama yang berbahan dasar medis (manusia). Akreditasi dilakukan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang mengacu ke SNI 15189:2012 dimana memuat klausal mengenai persyaratan manajemendan persyaratan teknis.Untuk mendapatkan akreditasi, kedua persyaratan tersebut harus benar-benar disusun, direkam, disosialisasikan, dimengerti serta dilaksanakan dalam kegiatan sehari – hari laboratorium. Sebagai persiapan akreditasi dan standarisasi Laboratoriumnya, Puslitbang Biomedis dan Tekdakes (PBTDK) mengikuti kegiatan pelatihan pemahaman SNI ISO 15189:2012 yang dilaksanakan pada tanggal 10-11 Mei 2016 bertempat di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta. Puslitbang Biomedis danTekdakes mengirimkan 8 orang yang terdiridari Koordinator Laboratorium PBTDK;  Penanggung Jawab Lab Virologi beserta 5 orang staffnya serta 1 orang dari divisi Biorisiko. Adapun agenda yang dilatihkan adalah Sistem Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian; Sistem akreditasi laboratorium medik; Persyaratan Manajemen SNI ISO 15189:2012 dan juga Persyaratan teknis SNI ISO 15189:2012.  - Thursday, 21 July 2016 06:21
Pelatihan Penggunaan Hewan Percobaan dalam Penelitian Biomedis, Bogor 28 -29 Maret 2016   Hewan coba merupakan salah satu aspek penting dalam penelitian di Bidang Biomedis. Beberapa alasan digunakannya Hewan coba tetap diperlukan dalam penelitian khususnya di bidang kesehatan, pangan dan gizi antara lain: (1) keragaman dari subjek penelitian dapat diminimalisasi, (2) variabel penelitian lebih mudah dikontrol, (3) daur hidup relatif pendek sehingga dapat dilakukan penelitian yang bersifat multigenerasi, (4) pemilihan jenis hewan dapat disesuaikan dengan kepekaan hewan terhadap materi penelitian yang dilakukan, (5) biaya relatif murah, (6) dapat dilakukan pada penelitian yang berisiko tinggi, (7) mendapatkan informasi lebih mendalam dari penelitian yang dilakukan karena kita dapat membuat sediaan biologi dari organ hewan yang digunakan, (8) memperoleh data maksimum untuk keperluan penelitian simulasi, dan (9) dapat digunakan untuk uji keamanan, diagnostik dan toksisitas. Peneliti yang akan memanfaatkan hewan percobaan pada penelitian kesehatan harus mengkaji kelayakan dan alasan pemanfaatan hewan dengan mempertimbangkan penderitaan yang akan dialami oleh hewan percobaan dan manfaat yang akan diperoleh untuk manusia. Penelitian yang memanfaatkan hewan coba juga harus menggunakan hewan percobaan yang sehat dan berkualitas sesuai dengan materi penelitian. Hewan tersebut dikembangbiakkan dan dipelihara secara khusus dalam lingkungan yang diawasi dan dikontrol dengan ketat. Tujuannya adalah untuk mendapatkan defined laboratory animals sehingga sifat genotipe, fenotipe (efek maternal), dan sifat dramatipe (efek lingkungan terhadap fenotipe) menjadi konstan. Untuk itu pada tanggal 28-29 Maret 2016 bertempat di Bogor, Drh. Putri Reno Intan (Intan). Perwakilan dari Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan (mengikuti pelatihan penggunaan Hewan Coba dalam Penelitian Biomedis. Adapun Narasumber dari pertemuan ini adalah dari Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) LPPM–IPB. Adapun materi yang diajarkan adalah meliputi Ethics, Legislasi & IACUC overview; Biosafety and Occupational Health and Safety; Prinsip 3R; Manajemen fasilitas hewan coba; Perilaku, biologi dan fisiologihewan coba; Manajemen penyakit hewan laboratorium; Handling and restraint; Anesthesics, analgesics, euthanasia, surgery. Sedangkan untuk sesi praktikum diajarkan Handling and Restraint, Sample Collection, Drug administration. - Tuesday, 10 May 2016 13:48
WHO Workshop on Biosafety in Public Helath Laboratories Bangkok 29 Feb – 4 Maret 2016     Biosafety dan Biosecurity merupakan aspek penting yang tidak terlepas dari laboratorium. Keduanya merupakan tandem yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu pada tanggal  29 Feb – 4 Maret 2016 bertempat di NIH Bangkok-Thailand, WHO menyelenggarakan pelatihan untuk tenaga pelatih (training of trainer = ToT) mengenai Biosafety di Laboratorium.   Peserta yang hadir terdiri dari 10 negara termasuk Indonesia. Delegasi Indonesia diwakili oleh 2 instansi yaitu Badan Litbangkes dan BBLK Palembang. Adapun peserta perwakilan Badan litbangkes adalah dr. Ni Ketut Susilarini, MS dan Subangkit, M.Biomed (Pusat Biomedis dan Tekdakes). Pelatihan ini bertujuan untuk berbagi informasi dan praktek laboratorium yang baik diantara peserta dari berbagai negara serta melatih para praktisi laboratorium dalam hal proteksi dan keamanan penggunaanya serta memastikan laboratorium sesuai dengan standar yang ada. Adapun konsep yang diterapkan dalam pelatihan ini adalah International Best Practise dengan mengedepankan praktikum; diskusi dan sharing pengalaman masing-masing negara   - Tuesday, 10 May 2016 13:48
ASEAN-GPP Workshop on Strengthening Laboratory Capacity Through UNITEDengue     Ministry of Health Lao PDR sebagai tuan rumah bekerjasama dengan Enviromental Health Institute (EHI) of Singapore dan Disease Control Division of Malaysia mengadakan Workshop on Strengthening Laboratory Capacity Through UNITEDengue pada tanggal 29 – 31 Maret 2016 di Settha Palace, Vientiane, Lao PDR. Tujuan dari program workshop tersebut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta pada area biosafety, teknik molekuler karakterisasi virus dengue, bioinformatik dan molekuler epidemiologi. Juga untuk mengenalkan paserta pada web-based dengue data sharing platform. Workshop dibuka oleh Dr. Bounlay Phommasack sebagai Director General of Disease Control Division of Lao PDR. Workshop ini diikuti oleh 10 negara ASEAN. Peserta dari Indonesia diwakili oleh Hartanti Dian Ikawati, S.Si, Eka Pratiwi, M.Biomed dan Arie A. Nugraha. UNITEDengue (United In Tacking Epidemic Dengue) adalah jejaring lintas batas untuk berbagi informasi surveilans dengue dan pengetahuan pengendalian virus dengue. Saat ini anggota dari UNITEDengue dari AMS (Asean Member State) adalah MOH Malaysia, EHI Singapura, MOH Brunei, MOH Vietnam, MOH Pilipina, MOH Laos dan MOH Thailand (bergabung februari 2016), sementara Indonesia, Myanmar dan Kamboja belum bergabung. - Tuesday, 10 May 2016 13:48
Konferensi Global Health Security Agenda (GHSA) Jenewa, 23 Januari 2016   Melalui kemitraan dari hampir 50 negara, organisasi internasional, dan para pemangku kepentingan nonpemerintah, Global Health Security Agenda (GHSA) memfasilitasi kolaborasi, upaya peningkatan kapasitas untuk mencapai target spesifik dan terukur terhadap ancaman biologis, untuk mempercepat pencapaian kapasitas inti yang diperlukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Peraturan Kesehatan Internasional atau lebih dikenal dengan Internasional Health Regulation (IHR) dan Organisasi Dunia Kesehatan Hewan (OIE) melalui alur kinerja Veterinary Services, serta kerangka kerja keamanan kesehatan global terkait lainnya. Kemitraan dari beragai organisasi ini dipimpin dan didukung oleh kelompok pengarah (steering group) GHSA yang terdiri dari 10 negara anggota termasuk Indonesia. Ketua Pengarah dari GHSA ini berasal dari negara yang berbeda setiap tahun.       Pada tahun 2016, Indonesia resmi memimpin keketuaan Steering Group serta Ketua Troika kelompok negaranegara GHSA. Ketetapan ini dilakukan pada pertemuan Steering Group of the Global Health Security Agenda (GHSA) yang berlangsung tanggal 23 Januari 2016 di Kantor World Health Organization (WHO), Jenewa, Swiss. Ibu menteri Kesehatan memimpin delegasi RI (delri) dan salah satu anggota delri adalah Ibu Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Pretty Multihartina, PhD. Dalam sambutannya, Ibu Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa melalui kerjasama dalam GHSA akan membantu negara-negara anggota dalam meningkatkan kapasitas nasional.Keanggotaan negara-negara dalam GHSA bersifat sukarela. Kegiatan-kegiatan dalam GHSA adalah untuk meningkatkan kapasitas untuk mencegah, mendeteksi dan melakukan respon terhadap ancaman pandemi. Seluruh aktifitas yang dilaksanakan oleh negara anggota GHSA untuk meningkatkan kapasitas nasional dalam implementasi WHO – IHR (2005). (VS.) - Monday, 21 March 2016 06:33
Kunjungan Kepala Badan Litbang Kesehatan, Jakarta 26 February 2016     Kepala Badan Litbang Kesehatan dr. Siswanto, berkesempatan berkunjung di Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi (PPI) “Prof. Oemijati” dalam kunjungan tersebut Kepala Badan melihat lihat fasilitas yang ada di Laboratorium PPI (termasuk ruangan BSL 3) yang terletak dilantai dasar.   Pada kunjungan ini Kepala Badan juga banyak mendapatkan penjelasan mengenai kegiatan yang berlangsung di laboratorium PPI diantaranya mengenai konsorsium riset vaksin dengue yang dilaksanakan bekerjasama dengan universitas dan lembagalembaga lain. Selain itu Kepala Badan juga mengunjungi beberapa laboratorium lain termasuk laboratorium sel punca. (MB)     - Monday, 21 March 2016 06:30
Diskusi Ilmiah : Virus Dengue dan Zika, Jakarta 19 February 2016     Akhir-akhir ini dunia diramaikan dengan pemberitaan mengenai adanya perkembangan virus yang cukup merepotkan dunia kesehatan, Zika. Virus ini menginfeksi melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, beberapa gejala yang terlihat apabila manusia sudah terinfeksi virus ini adalah demam, nyeri sendi, konjungtivitis (mata merah) dan ruam. Pertama kali ditemukan di hutan Zika, Uganda pada tahun 1947 yang terdapat pada seekor moyet. Kemudian mulai menjadi endemis dan menyebar keluar Afrika dan Asia pada tahun 2007. Tahun 2015 virus ini menyebar ke Brazil dan di Indonesia sendiri ditemukan di Jambi pada tahun 2015.       Untuk memberikan pemahaman secara ilmiah mengenai virus yang ditularkan melalui vektor nyamuk ini Puslitbang Biomedis dan TDK menyelenggarakan pertemuan diskusi ilmiah pada tanggal 19 pebruari 2016 di Gedung Theater Badan Litbangkes. Tiga materi yang diangkat adalah mengenai penelitian virus zika yang disampaikan oleh Prof. dr. Herawati S., PhD dari Lembaga Eikjman dilanjutkan oleh Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama dengan membawakan paparan mengenai Perkembangan Penelitian dan Kasus Virus Zika dan paparan mengenai Perkembangan Penelitian Konsorsium Vaksin Dengue oleh Dr. dr Whinie Lestari, M.Kes. (Koordinator Riset Vaksin Dengue). (MB)     - Monday, 21 March 2016 05:22
Workhsop on Biosafety/Biosecurity in Public Health Laboratories in the South East Asia Region, Bangkok 29 February - 4 maret 2016     Biosafety dan Biosecurity merupakan aspek penting yang tidak terlepas dari laboratorium. Keduanya merupakan tandem yang tidak dapat dipisahkan. Untuk itu pada tanggal 29 Feb – 4 Maret 2016 bertempat di NIH Bangkok - Thailand , WHO menyelenggarakan pelatihan untuk tenaga pelatih (training of Trainer = ToT) mengenai Biosafety di Laboratorium. Peserta yang hadir terdiri dari 10 negara termasuk Indonesia. Delegasi Indonesia diwakili oleh 2 instansi yaitu Badan Litbangkes dan BBLK Palembang. Adapun peserta perwakilan Badan litbangkes adalah dr. Ni Ketut Susilarini, MS dan Subangkit,M.Biomed.     Pelatihan ini bertujuan untuk berbagi informasi dan praktek laboratorium yang baik diantara peserta dari berbagai negara serta melatih para praktisi laboratorium dalam hal proteksi dan keamanan penggunaanya serta memastikan laboratorium sesuai dengan standar yang ada. Adapun konsep yang diterapkan dalam pelatihan ini adalah International Best Practise dengan mengedepankan praktikum; diskusi dan sharing pengalaman masing-masing negara menenai Biosafety di Laboratorium.     - Monday, 21 March 2016 05:09
Workhsop Training : Operational, Maintenance dan Certification Testing BSC, Jakarta 29 February - 4 Maret 2016     Kegiatan Workshop operational, maintenance and certification Biosafety Cabinet ini bertujuan agar terawatnya dan terseetifikasinya BSC dalam rangka kesiapan Jejaring Laboratorium untuk mendeteksi dini penyakit. Pendanaan kegiatan ini dari WHO dan EU. Pelatihan dilaksanakan dalam 2 batch, batch ke-1 telah dilaksanakan pada tgl 15-19 Februari 2016Peserta : BLK Papua, BBLK Surabaya. Balai Biomedis Aceh, Labkesda Kalbar, Loka Banjarmegara, RSPI SS, RS Persahabatan, BBTKL Jakarta, Mikrobiologi UI, BBLK Palembang, BBLK Jakarta, BBTKL Jogjakarta. Batch ke-2 akan  dilaksanakan pada tgl 29 Februari-4 Maret 2015. Peserta dari workshop ini adalah Balai Litbang Donggala, Balai  Litbang Tanah Bumbu, Biomedis Papua, BBVRP Salatiga, BBTKL Surabaya, BBTKLPP Banjar Baru, BBLK  Makassar, BLK Bali, Mikrobiologi UNHAS Makassar, Mikrobiologi RS Sardjito Jogja, Mikrobiologi Dr Sutomo  Surabaya, Mikrobiologi Dr Karyadi Semarang, Mikro RS Syaiful Anwar.         Kemudian dilanjutkan kegiatan sertifikasi  BSC di 13 tempat : BLK Papua, BLK Denpasar Bali, Mikrobiologi UI, RSPI Sulianti Saroso, RS Persahabatan,  BBTKL Jogjakarta. Loka Banjarnegara, BBLK Palembang, BLK Jakarta, BBLK Surabaya, BLK Kalbar, BBTKL  Jakarta, Biomedis Aceh. TksKegiatan ini dirancang bersama Ditjen Yankes dan Ditjen P2P dalam kerangka Permenkes 658 thn 2009 tentang Jejaring Lab EID. (NK)   - Monday, 21 March 2016 04:59
Assesment Laboratorium Polio Lingkungan - WHO, Jakarta 12 February 2016 Guna mendukung eradikasi penyakit polio di Indonesia salah satu krtitkal poin adalah dilakukannya surveillans lingkungan untuk virus polio. Saat ini ada tiga laboratorium Nasional Polio yang ditunjuk oleh pemerintah Indonesia melalui SK menteri Kesehatan HK.02.02/MENKES/322/2015 Laboratorium Virologi Pusat BTDK Badan Litbangkes, BBLK Surabaya dan PT Biofarma. Akan tetapi baru PT. Biofarma yang telah mampu melakukan suveilans Polio lingkungan, oleh karena itu pada tanggl 12 Februari 2016 dilakukan penilaian (Asssesment) WHO terhadap kesiapan laboratorium Virologi Polio Nasional Puslitbang Biomedis dan teknologi dasar Kesehatan guna mendukung dilaksanakan surveillans polio lingkungan.   Tim penilai (assessor) yang hadir dalam kegiatan ini adalah dr. Ousmane Diop (Koordinator WHO Global, Jenewa);dr. Cara Burn (CDC) dan Ms. Sirima Pattamadilok (Koordinator WHO Searo). Agenda tujuan assement adalah untukMenilai seluruh aspek yang berhubungan dengan kesiapan pemeriksaan polio lingkungan dan Diskusi tentangmasalah dan persiapan laboratorium untuk melakukan pemeriksaan laboratorium polio lingkungan. Penilaiandilakukan terhadap aspek kesiapan ruangan, equipment, SDM, dan ketersedian bahan /reagensia.Hasil penilaian dari tim assessor adalah bahwa secara teknis laboratorium Virologi Polio Nasional PuslitbangBiomedis dan teknologi dasar Kesehatan dapat melakukan pemeriksaan surveillans polio lingkungan denganmelengkapi beberapa peralatan yang belum tersedia. Hasil diskusi disepakati juga WHO untuk menyediakan tenagaahli yang akan membimbing petugas pada saat awal melakukan pemeriksaan polio lingkungan.(SB) - Monday, 21 March 2016 04:54
Training of Trainer Manajemen Biorisiko (Biosafety and Biosecurity Lab Management), Jakarta 23-26 February 2016     Training of Trainer Manajemen Biorisiko (Biosafety and Biosecurity Lab Management) , 23-26 February 2016 dilaksanakan pada tanggal 23-26 Feb 2016 bertempat  Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes, Jakarta dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dan teknik pengajaran peserta dalam manajemen biorisiko .  Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendanaan  WHO-EU sedangkangka pengajar/pemateri dari workshop ini adalah xpert dari WHO       Pertemuan 3 hari ini dihadiri oleh Subdit Yankes M&A,  Balitvet, Karantina Pertanian, Labkesda DKI, PSSP Bogor, BBTKL Jakarta, BBLK Surabaya, Balai Biomedis Papua, BBVRP Salatiga, Departemen Mikrobiologi UI, IHVCB- UI, PBTDK, dan LBM Eijkman. Kurang lebih sebanyak 17 peserta hadir dalam workshop ini.   Info Lebih lanjut : dr. Ni Ketut Susilarini, MS. - Thursday, 10 March 2016 10:08
Menteri Kesehatan RI Kunjungi Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof.Dr. Sri Oemijati Menteri Kesehatan RI Kunjungi Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof.Dr. Sri Oemijati   “Bangsa Indonesia harus mampu mengatasi masalah bangsa kita sendiri”, inilah sebagian pesan Menteri Kesehatan RI, Prof.Dr.dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K), saat berkunjung ke Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof.dr Sri Oemijati, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI, Jumat, 27 Februari 2015. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP & PL), Direktur Jenderal Bina Alat Kesehatan dan Farmasi,  dan Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan mendampingi Menteri Kesehatan saat meninjau Laboratorium yang diresmikan pada tahun 2010. Ruang Manajemen Spesimen merupakan tempat pertama yang dikunjungi oleh Menteri Kesehatan, di ruang ini Menteri Kesehatan mendapat penjelasan mengenai Manajemen Spesimen oleh Penanggung Jawab LIMS (Laboratory  Information Management System).    Menteri Kesehatan RI mendengarkan penjelasan dari Penanggung Jawab LIMS Setelah ruangan LIMS, Menteri Kesehatan RI mengunjungi Laboratorium Bio Safety Level – 3 (BSL-3),   dalam kesempatan ini Menteri Kesehatan juga masuk ke ruang kerja BSL-3 dengan menggunakan Pakaian Alat Pelindung Diri Lengkap seperti yang biasa digunakan oleh staf Laboratorium saat bekerja di BSL-3.  Kabadan Litbangkes, Dirjen PP & PL, Dirjen Bina Alkes dan Farmasi, Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan dan Penanggung Jawab Laboratorium Virology mendampingi Menteri Kesehatan saat meninjau ruangan kerja di BSL-3. Laboratorium BSL-3 sendiri merupakan laboratorium yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan penyakit infeksi seperti Avian Influenza dan Mers-Cov.   Menteri Kesehatan RI saat di Laboratorium Bio Safety Level-3     Menteri Kesehatan RI berdiaalog dengan Peneliti di Laboratorium Virology   Menteri Kesehatan dan rombongan melanjutkan meninjau Laboratorium Virology. Di Laboratorium yang menjadi rujukan Nasional untuk pemeriksaan penyakit infeksi seperti Polio, Campak dan Influenza ini, Menteri Kesehatan dan rombongan meninjau peralatan dan berdialog dengan petugas yang sedang bekerja di Laboratorium Virology. Laboratorium Nasional Penelitian Penyakit Infeksi Prof.Dr. Sri Oemijati, merupakan Laboratorium terbesar di Indonesia, Laboratorium ini digunakan juga dalam kegiatan penelitian-penelitian yang dilaksanakan oleh Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes RI. (MHP) - Wednesday, 18 March 2015 08:03
368141
Today
Yesterday
This Week
Total
27
916
3042
368141

Foto Kegiatan

Diskusi Ilmiah Virus Dengue dan Zika, 18 Feb 2016
Diskusi Ilmiah Virus Dengue dan Zika, 18 Feb 2016
Diskusi Ilmiah Virus Dengue dan Zika, 18 Feb 2016
Kunjungan Kepala Badan Litbangkes, 26 Feb 2016
Kunjungan Kepala Badan Litbangkes, 26 Feb 2016
Kunjungan Kepala Badan Litbangkes, 26 Feb 2016
Biosafety and Biosecurity Lab Management, 23-26 Feb 2016
Biosafety and Biosecurity Lab Management, 23-26 Feb 2016
Rapat Kerja Badan Litbangkes, 3 Maret 2016
Rapat Kerja Badan Litbangkes, 3 Maret 2016
Pekan Imunisasi Nasional, Maret 2016